Showing posts with label Random Thought. Show all posts
Showing posts with label Random Thought. Show all posts

Thursday, 23 February 2023

Ketika Nasi Sudah Menjadi Bubur

 Teringat akan sebuah kalimat bijak, "Orang bisa jatuh bukan karena batu besar, melainkan kerikil kecil".


Kerikil kecil telah membuat jatuh? Tidak masalah. Semua orang di luar sana juga pernah jatuh dengan kerikil lainnya. Hanya saja, pilihan kembali pada diri sendiri; mau bangkit, berdiri dan maju atau malah diam, menyesal dan mengasihani diri. Pengalaman terjatuh karena masalah yang ringan justru menjadi momen penting yang mengajarkan kita untuk tidak lagi menyepelekan atau menganggap remeh hal-hal kecil dalam segala sendi kehidupan.

Nasi sudah menjadi bubur? Tidak masalah. Sisi positifnya, masih ada kesempatan bagi kita untuk berkreasi mengolah "bubur" itu menjadi bubur yang nikmat dan ajiiiibbb.

Thursday, 30 January 2020

Reinforcement


Tidak masalah berapa kali kita gagal.

Tidak penting berapa kali kita hampir berhasil.

Kecewa karena gagal itu masih jauh lebih baik daripada menyesal tanpa melakukan sesuatu.

Yang perlu kita lakukan adalah belajar dari kegagalan itu.

Belajar dari orang-orang di sekitar, yakinlah kalau kita pun bisa bangkit.

Janganlah takut dengan kegagalan, karena jalan menuju kesuksesan adalah dengan selalu mencoba satu kali lagi.

Dan ketika kita mencapainya, semua yang tidak tahu kisahmu hanya bisa berkata... Betapa beruntungnya kamu.

Wednesday, 1 January 2020

2020


Bergabunglah seribu pujangga melantunkan rema-rema cinta

Bersatulah surya dan awan gemawan meluluskan megahnya angkasa

Bersinarlah bintang gemintang merangkai temaram semesta

Bersekutulah angin empat musim mengarah halimun selat malaka

Tuesday, 31 December 2019

Ketika Nasi Sudah Menjadi Bubur


Teringat akan sebuah kalimat bijak, "Orang bisa jatuh bukan karena batu besar, melainkan kerikil kecil".

Kerikil kecil telah membuat jatuh? Tidak masalah. Semua orang di luar sana juga pernah jatuh dengan kerikil lainnya. Hanya saja, pilihan kembali pada diri sendiri; mau bangkit, berdiri dan maju atau malah diam, menyesal dan mengasihani diri. Pengalaman terjatuh karena masalah yang ringan justru menjadi momen penting yang mengajarkan kita untuk tidak lagi menyepelekan atau menganggap remeh hal-hal kecil dalam segala sendi kehidupan.

Nasi sudah menjadi bubur? Tidak masalah. Sisi positifnya, masih ada kesempatan bagi kita untuk berkreasi mengolah "bubur" itu menjadi bubur yang nikmat dan ajiiiibbb.

Wednesday, 16 May 2018

Keadaan


Kebanyakan kisah cinta anak manusia diawali dengan sangat sederhana. Dari pertemuan yang konon katanya mengandung unsur ketidak sengajaan, dua manusia dapat saling sapa, saling tanya, lalu saling mencari satu sama lain. Benih asmara pun tumbuh, jika benih tersebut tumbuh di hati keduanya itu pertanda baik, namun jika hanya tumbuh di hati salah seorang saja ini yang akan menjadi masalah.

Ujung-ujungnya dapat kita prediksi, status galau bertebaran, seiring dengan kode keras yang muncul secara sporadis hanya agar dia mulai peka. Padahal mungkin saja dia peka, tapi tak mau berurusan lebih jauh denganmu.

Manusia adalah mahluk berpikir, itu yang membedakan kita dengan ciptaan-Nya yang lain, namun manusia pun mahluk yang mempunyai emosi.

Sayangnya, saat emosi sudah menghampiri, kita seringkali kehilangan daya untuk berpikir jernih. Kita lebih senang memberi kode, padahal dialog lebih memberikan titik terang.

Kita lebih senang menghilang, padahal pertemuan lebih memberikan gagasan. Kita lebih senang mendramatisir keadaan, padahal masalah seharusnya diselesaikan, bukan diperpanjang.

Lalu kau merasa dipermainkan? Katamu ia tak berhak membumbungmu tinggi hanya untuk menjatuhkanmu.

Berawal dari mencari, berujung dengan mencaci, perlukah?

Sadarkah dirimu bahwa cinta itu jorok? Muncul di mana saja, bahkan di tempat tak terduga. Cinta itu tak kenal etika, hilang tanpa permisi bahkan di waktu tak terduga.

Perasaan yang terbang tak selalu berujung mendarat dengan selamat. Cinta yang sembunyi-sembunyi tak selalu berujung ditemukan. Tangan yang saling menggenggam tak selalu berujung dipastikan.

Kadang, kita harus mengalah pada kenyataan bahwa apa yang kita berikan tak mesti sama dengan apa yang kita terima.

Jadi, jika memang harus kandas sebelum bersemi, ya sudah kenapa harus terlalu dipermasalahkan? Berkomitmen itu sama saja dengan bekerja sama, kalau dia merasa tak bisa bekerjasama denganmu setelah mengenalmu cukup dekat, apa harus dipaksa?


Hey, santai...


Tuhan sedang mempersiapkan kisah yang lebih baik untukmu.




- Buku Catatan Juang halaman 211-212 oleh Fiersa Besari -

Sunday, 15 October 2017

Before 30




“Ketika umur lo 27, lo akan mengambil sebuah keputusan penting yang akan mengubah hidup lo.” – Yusuf kepada Ambar, Tiga Hari untuk Selamanya.

Usia 27 bagi beberapa orang adalah angka yang sakral. Masa transisi. Dari anak muda yang mencari jati diri menjadi manusia dewasa yang hakiki. Ketika menginjak usia itu, banyak hal yang telah terjadi dalam hidup. Mulai dari patah hati, penolakan oleh gebetan, penolakan oleh calon bakal gebetan, ditinggal kawin, meninggalnya orang tersayang, gagal masuk universitas negeri, gagal jadi PNS, kena SP dari kantor, ditipu orang, tidak hapal pembukaan UUD 45, sampai yang paling parah mungkin kadar gula darah mulai naik. Iya, segila itu. Saya sendiri kalau mengingat-ingat kehidupan saya selama 27 tahun ke belakang, merasa heran sendiri, “Gila juga ya gue udah lewatin itu semua”. Sambil sesekali menyeka keringat di jidat. Jidat Ariel Tatum.

Pada fase-fase ini, bisa dibilang saat-saat kritis dalam membuat suatu keputusan. Karena keputusan selanjutnya yang dibuat, bisa menentukan akhir dari cerita kehidupan. Jika pada usia 20-an merupakan masa-masa untuk memilih, maka setelah 30, adalah bagaimana kita menjalani keputusan yang telah kita buat. Akan ada beberapa hal yang biasanya terjadi, mungkin juga menjadi titik balik yang akan mengubah hidup kamu selamanya:
1. Teman-teman Mulai Menghilang Satu per Satu
Ketika masih berada di awal usia 20-an, sangat mudah untuk menjaga pertemanan. Datang ke rumah teman, menginap semalam sembari main PS sampai pagi adalah hal yang dulu saya sering lakukan. Saat pertama kali masuk kerja, bahkan ketika sedang sibuk-sibuknya di kantor, saya masih punya akhir pekan untuk sesekali keluar bersama mereka. Ketika menginjak 25, dan ketika satu per satu dari mereka menikah dan kemudian punya anak, mereka makin tenggelam dalam hidup dan fokus masing-masing. Ada beberapa yang karirnya melesat cepat layaknya rudal Korea Utara yang bisa mencapai ribuan kilometer jauhnya mencapai Guam. Ada beberapa yang tak sesukses itu --- meski dulu terkenal pintar di sekolah. Ada yang sudah punya anak dua, dan terlalu sibuk untuk mengiyakan semua ajakan untuk kumpul bareng lagi. Apalagi main futsal bareng. Belakangan, hal tersebut yang mendasari saya untuk memilih olahraga yang bisa dimainkan hanya dengan seorang diri seperti berlari, berenang, bersepeda, dan bercocok tanam.
Mendekati usia 30, arti pertemanan tidak lagi sesempit itu. Tidak semudah mengajak main kapan saja. Tidak. Teman sejatimu adalah mereka yang masih mau mendengar segala keluh kesah, tertawa bersama kekonyolan, dan bercerita mengenai banyak hal. Termasuk minjemin duit.
2. Kebebasan Finansial
Pada usia 27, biasanya kita telah sanggup untuk memenuhi beberapa kebutuhan mendasar; primer, sekunder, atau bahkan tersier. Masih ingat kan pelajaran ekonomi SMP? Kebutuhan akan kendaraan biasanya jadi kebutuhan yang menuntut pengeluaran paling banyak, sampai nyicil bertahun-tahun malah. Melihat kondisi transportasi di Jakarta, ya harap maklum. But, please. From now on... Stop it. Sekarang sudah saatnya untuk berpikir bagaimana bebas dari lilitan kredit serta hutang sebelum memasuki usia 30. Bukan gonta-ganti kendaraan paling terkini, yaa kecuali memang penghasilanmu cukup untuk melakukannya. Ini penting. Penting untuk merancang masa depan. Ketika tenaga tak akan lagi sama, target hidup yang mulai berubah, rambut yang mulai beruban [karena salah pakai shampoo]. Perencanaan mengenai things-to-do sudah harus benar-benar matang. Harus. Sebelum usia 30, sebisa mungkin kita sudah mempunyai beberapa aset serta saving agar kita tenang dan aman dalam menjalani hidup sesuai gaya hidup yang diinginkan. Say good bye to ngopi-ngopi segelas 50 ribu. 49 ribu masih oke lah.
3. Melakukan Apa yang Tidak Ingin Dilakukan
“Kalau selalu melakukan yang sudah bisa dilakukan, kapan kalian akan berkembang?” salah satu penggalan kalimat dalam seminar yang kala itu saya hadiri.
Iya, akan ada banyak hal yang terjadi di luar harapan. Jangan heran. Atau kalau kata anak kids jaman now, terpuqau. Apalagi di dunia kerja. Kadang apa yang kita inginkan tidak sesuai ekspektasi. Di antara jobdesk yang tak menyenangkan itu, pasti akan tetap ada kebaikan di dalamnya. Layaknya patah hati, tak menyenangkan. Tapi bukankah kita bisa mengambil pelajaran pada setiap kejadian? Karena dalam hidup sebenarnya tak ada yang sia-sia.
4. 30 Nanti
-
5. Your Life Starts from... NOW!
Yak! Semua dimulai dari detik ini. Lha wong planning yang dibuat dulu tentang target-target sebelum usia 30 aja masih banyak yang belum tercapai kok, sudah mau bikin planning lagi pas umur 30 ke atas. Apalagi masalah asmara nih ya. Saya telah beberapa kali jatuh cinta -- termasuk pada orang yang salah. Mulai sekarang saya tak akan ambil pusing sama hubungan yang memberatkan dan unfaedah. Yakinlah, di luar sana banyak calon pasangan yang lebih baik tengah menunggu. Karena hanya ada dua tipe orang di dunia ini:
“Mereka yang Tepat Dititipi Separuh Bagian Hati”
“Mereka yang Layak Ditinggal Pergi”
Bertambahnya umur berarti bertambah pula pengalaman dan kebijaksanaan dalam memandang kehidupan. Kita masih punya banyak waktu untuk mengangkat gelas sampanye, mengisi banyak-banyak, dan bersulang untuk kehidupan yang penuh kejutan ini.

Selamat berproses ke pintu 30 tahun! May God always be with us. Bismillah.

Thursday, 10 November 2016

Conversation of Love and Marriage



Once upon a time, a student asks a teacher, “Why often people marry a different person then they fell in love with?”

The teacher said, “In order to answer your question, go to the wheat field and choose the best wheat and come back. But the rule is that you can go through them only once and cannot turn back to pick.”

The sudent went to the field, went through the first row, he saw one big wheat which he instantly liked, but he wonders that maybe there is a bigger one further. Then he saw another bigger one, but again he thought that maybe there is an even bigger one waiting for him. Later, when he finished more than half of the wheat field, he started to realize that the wheat is not as big as the ones he let go off, he started to realize that he had missed the best one in the search of a bigger. So, he ended up going back to the teacher with an empty hand just because he just wasn’t able to forgive himself for letting go of the best wheat and described what happened.

The teacher told him, “You kept looking for a better one while letting go of the best one and later when you realize that you have missed that, you can’t go back. This is the mistake often made by people who fell in love and lost the best person they could have in their life.”

So, the student said, “Does that mean, one should never fall in love?”

The teacher replied, “No Dear, Anyone can fall in love if they find a suitable person. But, once you truly fall in love, you must never let go of that person due to your anger, ego or comparisons with others.”

“How do they end up marrying someone other than they loved?” the student asked curiously.

The teacher said, “In order to answer your question, now go to the corn field and choose the biggest corn and come back. But the rule is still the same as before, you can go through them only once and cannot turn back to pick.”

The student went to the corn field, this time he was careful to not to repeat the previous mistake. When he reached to the middle of the field, he picked one medium corn that he felt satisfied with and rushed back to the teacher. He described how he made a choice. The teacher told him, “Well, this time you didn’t come empty handed. You looked for one that is just nice, and  you had put your faith that this is the best one you can get. This is how one makes a choice for marriage.”

The student stood confusedly. The teacher asked, “What is bothering you now?”

The student then replied, “I’m wondering which would’ve been better, marrying the person you love or loving the person you marry.”

The teacher replied, “It’s very easy to answer that. Only if you are willing to admit it to yourself. Life is like a basket of fruits, Kid. Either you have to make a choice of eating the fruit you love or be content with something that is healthy! Choose wisely, else you may have to spend your life wondering…. What if.

As long as you stay true to yourself and honest, you can’t go wrong with any of these two choices.” the teacher closes the class.

Adapted from Reader's Digest

Saturday, 14 May 2016

Travel as an Investment to Broaden Mind


“Id, you travel a lot. Why wouldn’t you save your money for your future? Don’t you want to get married?”

That rhetorical question, always comes up to me after seeing my darkened skin after national holiday or kejepit holiday. Does future always have something to do with money? No, Man. In this case, I’m not in line with him. Life isn’t always about collecting pennies. 

There is more than that.

“Where’d you go? Another mountain? Beaches?” He continued.

“Man, this world is like a book. If you don’t travel, you only read one page. If you never go anywhere, you'll have a very limited view of the world.” Quoted from somewhere over the internet.

Not all of us can travel the whole globe, of course. Furthermore, we are Indonesian. You know what it means, don’t you? Unfortunately, if you’re not as rich as Syahrini or Bella Sophie, travelling around the globe is going to be bloody hard. But I think, just by making travel a priority — even to a new place around us — can be eye-opening. Going to the nearest museum, for instance. You convince yourself life is just fine without reading the book. You live each day in your comfort zone, never venturing too far from home. You fill your hours, days, and weeks with routine tasks, events, and traffics. Most of the time, you are satisfied, doing the same things, interacting with the same people, and thinking the same thoughts. Both your sphere of influence and your world view remain small, and that’s how you like it.

Now let me ask a question. Which one would you prefer, hanging out with people who know about anything, and comfortably talk to them about any kinds of topics or those who only know a little about what the hell is going on in the world right now and feel baper at almost anytime? I can spend hours talking to people who believe that investment to our life isn’t only money.

The book, would open our eyes to people and places we never knew existed. It would open our mind to new ideas, and would open our heart to what lies beyond our own horizon. So would traveling, there is a number of ways that travel can broaden one’s mind. One of my favorite is the opportunity to learn new language and culture. Given that different cultures have widely varying views on what is important and how to go about living life, learning another language can give invaluable insight into these differences and help us to suggest alternatives to our own view of life.

Another way that travel can help to broaden our mind is simply to humble us. Given the difficulties that arise from not knowing a language or situation where we need help to get by, we will learn more about our own limitations, which is a gooooood way to broaden our mind. Me, as a Moslem in Indonesia, I can perform prayer at anywhere I want. I feel so right because almost all people are doing the same things as I did.

Back in May 2015, I traveled to Cambodia and Thailand which we all know that islam is a minority. Today, I'm so grateful to be a majority of people here in Indonesia because it's my home, I understand the people, I know everything inside out. Street vendors are selling their food in every corner of the town. I won't be afraid missing my sholat since mosques are found everywhere. When I was there, it was so hard to search for a mosque and halalan thoyyiban food.

*** *** ***

2 weeks ago, I missed my early flight from Kuala Lumpur to Jakarta after watching Sepang Moto GP. I should’ve flown at 7 A.M. but I was still on my way to check in counter at 6. What went wrong? Nothing, it was just about the timing. I miscalculated the time required to get to immigration check, etc. You know what? I was quite happy though because I saw it as an opportunity to discover the city more.


But deep down inside, I crumbled. I just didn’t want to show it to my fellow traveler. What I did was search for a new ticket, and a hostel for another night.


I was smiling beyond the mask
Beyond all that, travel can broaden our mind by simply being a challenging thing that causes us to think critically and problem solve. When we travel, we have to figure out budget, map out an itin, and do many other things that require a great deal of thought and planning. Moreover, be prepared if anything goes out of the line, like; miss your flight, lost your luggage, break up with your girlfriend, etc.