Showing posts with label Belajar Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Belajar Bahasa. Show all posts

Tuesday, 29 October 2024

Komunitas Breadsos Ikuti Workshop Bahasa Inggris Untuk Tingkatkan Keterampilan Presentasi

 Depok, –Kampus Digital Kreatif Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) telah menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Masyarakat di Komunitas Breadsos, Kota Depok, pada Sabtu, 28 September 2024. Kegiatan ini mengusung tema “Workshop on English Presentation Skills for Students at Breadsos Community Depok”.

Breadsos sendiri merupakan sebuah Social Campaign yang menyuarakan perihal food care. Mereka mengedukasi masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sesuai kebutuhan bukan berdasarkan keinginan, menyediakan food sharing mobile app untuk mempertemukan mereka yang ingin berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gizi, cara memasak makanan yang benar, serta mengolah kembali bahan makanan layak konsumsi.

Komunitas Breadsos Ikuti Workshop Bahasa Inggris

Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan oleh kelompok dosen dari Program Studi Sastra Inggris Universitas BSI yang terdiri dari Fitriyah, Sayyid Khairunas, Octa Pratama Putra, dan Danang Dwi Harmoko. Dua mahasiswa dari program studi yang sama yakni, Sastria Putra dan Winda Ayu Kusnadi.

Danang Dwi Harmoko, Ketua Panitia, menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah melatih anggota komunitas Breadsos dalam meningkatkan keterampilan presentasi berbahasa Inggris.

“Kami berharap mereka bisa menguasai teknik presentasi dalam Bahasa Inggris dengan baik, karena keterampilan ini sangat penting di dunia kerja dan akademik,” ujar Danang dalam rilis yang diterima, Selasa (1/10)
Sementara Fitriyah, dosen sekaligus tutor dalam kegiatan ini, memaparkan bahwa keterampilan presentasi dalam Bahasa Inggris tidak hanya tentang berbicara di depan umum, tetapi juga menyusun materi yang efektif dan percaya diri dalam penyampaian.

“Dengan menguasai teknik presentasi ini, para peserta yang rata-rata sudah duduk di bangku kuliah akan lebih siap menghadapi tantangan akademik dan professional serta mengejawantahkan apa yang sudah mereka dapatkan selama di bangku kuliah,” terangnya.

Pada kesempatan ini Rizky, Koordinator Komunitas Breadsos, menyatakan harapannya bahwa kegiatan ini akan memberi manfaat besar bagi peserta dalam mengasah keterampilan komunikasi mereka, khususnya dalam Bahasa Inggris.

“Semoga adanya kegiatan ini dapat meningkatkan keterampilan komunikasi berbahasa Inggris bagi semua anggota komunitas. Dan berharap kegiatan ini akan berlanjut pada sesi-sesi berikutnya,” tutupnya.






Monday, 30 October 2023

Belajar sambal Bermain, Dosen Universitas BSI beri pelatihan Bahasa Inggris dengan Flash Cards bagi Rumah Belajar Mifasol Depok

 Kampus Digital Kreatif Universitas BSI menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat di Rumah Belajar Mifasol, Kota Depok, Jawa Barat, secara luring pada hari Sabtu, 28 Oktober 2023.

Tema yang diangkat dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat yaitu “Pelatihan Peningkatan Kosakata Bahasa Inggris Dengan Metode Flash Cards Games”. Kegiatan ini dilakukan kelompok dosen dari Program Studi Sastra Inggris Universitas BSI yang terdiri dari; Fitriyah, Sayyid Khairunas, Octa Pratama Putra, dan Danang Dwi Harmoko. Tidak hanya dosen, pada Pengabdian Masyarakat edisi Semester Ganjil 2023-2024 ini juga menghadirkan 2 mahasiswa/I Program Studi Sastra Inggris UBSI yaitu Talica Azzahra Kusnandar, dan Syahdilla Azzahra Virgianti.

Dr. Fitriyah, selaku Ketua Panitia, menyatakan tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk melatih adik-adik dari Rumah Belajar Mifasol yang rata-rata masih duduk di bangku sekolah dasar untuk bisa menambah kosakata Bahasa Inggris dengan metode yang menyenangkan yaitu Flash Cards.

“Kami berharap dengan pelatihan ini, adik-adik dari Rumah Belajar Mifasol dapat menyukai Bahasa Inggris terlebih dahulu, karena ini adalah pondasi awal. Ketika ketertarikan itu sudah ada maka belajar apa pun akan lebih mudah karena tidak ada beban,” ungkap Fitriyah.

Sementara itu Danang Dwi Harmoko yang biasa disapa Mas Danz, dosen UBSI sekaligus yang menjadi tutor pada kegiatan ini menjelaskan bahwa bermain game juga bisa meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris. Termasuk memperkaya penguasaan kosakata.

“Bermain Flash Cards adalah salah satu metode yang efektif untuk memperkaya kosakata dalam bahasa Inggris, atau bahasa apa pun. Ini adalah pendekatan belajar yang interaktif dan menyenangkan, yang dapat membantu adik-adik mengingat kata-kata dan frasa dengan lebih baik”, jelasnya sebelum mempraktekan bagaimana cara menggunakan Flash Cards.





Lebih lanjut, Mas Danz menjelaskan “meskipun bermain flash cards sangat berguna untuk memperkaya kosakata bahasa Inggris, membaca buku-buku atau teks berbahasa Inggris, mendengarkan lagu berbahasa Inggris, atau pun menonton film-film berbahasa Inggris juga bisa dilakukan. Yang paling penting adalah konsistensi dan kesabaran dalam belajar bahasa Inggris. Itu ya adik-adik,” tambahnya.

Walaupun acara berlangsung selama 2 jam, peserta tetap terlihat bersemangat dan antusias dalam mengikuti arahan tutor. Setelah menerima materi dari dosen UBSI, peserta diajak untuk bermain game dan berkesempatan mendapatkan doorprize. Mereka tampak tertarik dan banyak yang aktif mengajukan pertanyaan.

“Kami melihat anak-anak mempunyai semangat baru dalam belajar bahasa Inggris, karena mereka bisa belajar banyak hal yang menyenangkan,” ucap Siska selaku koordinator Rumah Belajar Mifasol.

Ia dan tim berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi anak-anak yang akan menjadi generasi penerus bangsa yang ada di Rumah Belajar Mifasol kelak.

“semoga apa yang telah diberikan oleh Bapak dan Ibu dari kampus Universitas BSI dapat bermanfaat bagi kami Rumah Belajar Mifasol,” tutupnya. [SKH]

Thursday, 21 April 2022

Mengapa Banyak Orang Indonesia Masih Gagap Berbicara Bahasa Inggris?

Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang banyak dipakai oleh orang di dunia untuk alasan yang berbeda. Bahasa ini juga menjadi bahasa yang dipakai dalam sidang PBB atau pertemuan diplomat para tokoh pemerintah dunia. Meski tidak semua negara berbicara Bahasa inggris, tapi ada yang menjadikan bahasa ini sebagai bahasa resmi kedua mereka, seperti di Malaysia dan Singapura.

Di Indonesia, banyak orang yang fasih atau sekadar bisa bercakap menggunakan Bahasa Inggris. Jika ingin bisa menggunakan bahasa Inggris, terlebih dahulu kita harus mempelajari dan menguasai empat keterampilan berbahasa Inggris yaitu berbicara (speaking), mendengarkan (listening), membaca (reading), dan menulis (writing).

Dari keempat kompetensi tersebut, berbicara merupakan kemampuan yang sering menghadirkan permasalahan bagi masyarakat Indonesia. Banyak orang Indonesia menghadapi beberapa masalah umum dalam berbicara bahasa Inggris.

Masalah pertama yang dihadapi adalah kurangnya rasa percaya diri. Kepercayaan diri masih menjadi momok bagi para pembelajar bahasa Inggris, meskipun telah dipelajari sejak di tingkat sekolah dasar. Beberapa dari mereka mungkin memahami grammar bahasa Inggris dengan sangat baik dan bahkan mendapat nilai tinggi dalam ujian, tetapi keterampilan berbicara mereka sangat buruk.

Alasan utama di balik permasalahan ini adalah masyarakat Indonesia atau bahkan para pembelajar khususnya, masih sering terlalu malu untuk memulai percakapan dengan bahasa Inggris dan takut salah. Ada anggapan orang lain akan menertawakan mereka. Hal ini menyebabkan mereka menghindari berbicara bahasa Inggris di depan orang lain.

Selanjutnya, sebagian besar orang Indonesia masih belum memiliki kosakata bahasa Inggris yang memadai. Hal ini karena semangat membaca mereka yang kecil. Padahal, sangat penting bagi seorang pembelajar untuk membaca teks bahasa Inggris untuk memperdalam kosakata, frase, atau idiom baru.

Hal tersebut membuat mereka sulit untuk mengungkapkan sesuatu akibat perbendaharaan kosakata yang kurang memadai. Faktor lainnya adalah bahasa ini bukan bahasa pertama kita sebagai masyarakat Indonesia. Jadi, tentu saja, jumlah kata bahasa Inggris yang kita miliki dalam kosakata kita tidak pernah cukup jika ingin disamakan dengan penutur asli bahasa tersebut.

Masalah lain yang dihadapi orang Indonesia saat berkomunikasi dalam bahasa Inggris adalah kurangnya latihan. Mereka berpikir bahwa kepercayaan diri mereka untuk berbicara bahasa Inggris rendah dan kosakata bahasa Inggris mereka tidak mencukupi. Hal ini yang membuat mereka kehilangan minat untuk berlatih bahasa Inggris.

Kondisi diperparah dengan lingkungan atau circle mereka yang tidak mendukung. Lingkungan biasanya tidak mendukung mereka untuk sering mempraktikkan bahasa Inggris. Orang lain atau bahkan teman sendiri mungkin berpikir bahwa mereka yang berbicara bahasa Inggris hanya ingin pamer saja.

Akhirnya, karena tidak ingin dianggap si-paling-pinter oleh orang lain di sekitarnya, mereka kembali menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari. Secara umum, negara lain yang tidak menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua ataupun bahasa resmi di pemerintahan akan banyak menghadapi kendala yang kurang lebih sama seperti yang dialami oleh kebanyakkan masyarakat Indonesia.

Also Posted on: https://www.republika.co.id/berita/ramnzs459/mengapa-banyak-orang-indonesia-masih-gagap-berbicara-bahasa-inggris

 

Thursday, 24 March 2022

Karyawan Bappeda Bogor Asah Kemampuan Public Speaking bersama Dosen UBSI

Prodi sastra Inggris UBSI memberikan pelatihan bahasa Inggris kepada karyawan dan karyawati Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kabupaten Bogor.

Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama antara pihak Bappeda Kabupaten Bogor dengan Universitas Bina Sarana Informatika Program Studi Sastra Inggris. 

Inisiator dari pihak Bappeda, Ratu Desy mengungkapkan, bahwa pihaknya secara khusus meminta kepada para dosen di lingkungan Universitas Bina Sarana Informatika untuk memberikan pelatihan bahasa Inggris di area speaking atau conversation. 

"Hal ini dikarenakan akan kebutuhan bagi karyawan-karyawati Bappeda yang sering menggunakan bahasa Inggris ketika akan melakukan kunjungan kerja atau survei ke pihak asing," ujarnya, Senin (21/3/2022).

Octa Pratama Putra, S.S, M.Pd, selaku Ketua Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) mengatakan, pentingnya penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris untuk menunjang karir di masa depan. 

Ia juga menegaskan agar para karyawan-karyawati di Bappeda Kabupaten Bogor tersebut untuk mampu meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris agar berguna dalam pekerjaan mereka, misalnya melakukan negosiasi dengan pihak asing.

"Jika bapak-ibu menguasai bahasa asing, minimal bahasa Inggris, bapak-ibu dapat dengan baik berkomunikasi dengan pihak lain yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya," lanjutnya.

Meskipun acara pelatihan tersebut berlangsung selama 2 jam, namun peserta terlihat antusias dan bersemangat dalam mengikuti arahan tutor. 

Dr. Fitriyah S.S, M.Si, selaku tutor utama memberikan contoh fenomena sehari-hari dalam mengucapkan kata atau pun kalimat dalam bahasa Inggris yang masih sering salah, namun masih banyak yang tidak sadar. 

"Misalnya, dalam mengucapkan terima kasih yang tidak tepat. Masih banyak yang bilang thanks you, baik dalam ucapan secara langsung maupun status-status di media sosial saat ini. Frase yang benar adalah thank you, ya bapak-ibu, bukan thanks you, jika ingin mengucapkan terima kasih ke lawan bicara kita", ujarnya.

Para peserta pengabdian terlihat sangat antusias menyimak materi yang dipandu oleh tim tutor secara bergantian. Acara berlangsung dengan menarik di mana para peserta sangat aktif untuk bertanya dan berdialog dengan para dosen.


Kegiatan tersebut dilakukan melalui media Zoom, kegiatan ini berlangsung kondusif dan berjalan dengan lancar. Pada kegiatan tersebut juga dibantu oleh sejumlah tutor, di antaranya Sayyid Khairunas, S.S, M.Pd dan Danang Dwi Harmoko, S.S, M.Pd serta dua orang mahasiswi dari Prodi Sastra Inggris, yaitu Riris Nurhayati dan Devitasari Afreilia yang saat ini tengah menyusun tugas akhir.





Tuesday, 18 February 2020

Workshop and English Training Section for TOEFL Test di UBSI Kampus Kota Sukabumi

Fakultas Teknik dan Informatika UBSI (Universitas Bina Sarana Informatika) PSDKU Kota Sukabumi bekerjasama dengan Lembaga Bahasa UBSI, menggelar Workshop and English Training Section For TOEFL Test, bertempat di Ruangan 203 Kampus UBSI Sukabumi, Jalan Cemerlang Nomor 8, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari tepatnya dari tanggal 11 sampai dengan 13 Februari 2020 ini, diikuti oleh 29 dosen UBSI Sukabumi. Adapun narasumber pada kegiatan tersebut, dari Lembaga Bahasa UBSI, Mr. Sayyid Khairunas, S.S., M.Pd.

Sedangkan maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan tersebut, diantaranya untuk meningkatkan pemahaman para dosen agar dapat mengenal detail TOEFL dengan baik, sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris para dosen supaya terbiasa dengan tipe soal dan strategi dalam mengerjakan soal TOEFL.

Ketua Program Studi Ilmu Komputer UBSI Kampus Sukabumi, Denny Pribadi, M.Kom. menjelaskan, dilaksanakannya kegiatan ini untuk mengatasi kendala yang dihadapi oleh para dosen yang berlatar belakang non Bahasa Inggris ketika menghadapi tes TOEFL sebagai salah satu syarat memperoleh sertifikat pendidik. Selain itu, kegiatan ini sangat berguna bagi para dosen yang telah memiliki sertifikasi pendidik yang ingin melanjutkan studi ke jenjang S3, atau untuk memperoleh beasiswa yang banyak ditawarkan oleh pemerintah.

Diharapkannya, dengan dilaksanakannya kegiatan ini dapat mengatasi permasalahan terkait strategi dan materi TOEFL, sehingga para dosen dapat menjalani tes dengan mudah. Diharapkan pula, kegiatan Workshop dan TOEFL Prediction Test yang diselenggarakan Fakultas Teknik dan Informatika UBSI Sukabumi dan Lembaga Bahasa UBSI ini, dapat memberi pengetahuan dan gambaran kepada para dosen di UBSI Sukabumi, sebelum mengikuti tes TOEFL yang sesungguhnya.

Ketua Program Studi Ilmu Komputer UBSI Kampus Sukabumi  juga menjelaskan, pada hari pertama, kegiatan ini diisi dengan workshop dan pemberian materi pemahaman dasar TOEFL, hari kedua peserta dilatih mengerjakan soal pre-test, dan hari ketiga atau terakhir para peserta bersama-sama mengikuti ujian TOEFL Prediction Test, untuk mengukur kemampuan dosen dalam memahami materi yang sudah diberikan. Dalam ujian ini, para peserta mengerjakan soal Listening Comprehension sebanyak 50 soal pilihan ganda selama 35 menit, dilanjutkan dengan soal Structure sebanyak 40 soal selama 25 menit, dan 50 soal pilihan ganda Reading Comprehension selama 55 menit.

Dikatakannya, para peserta tes TOEFL sangat antusias dan bersemangat dalam mengerjakan soal TOEFL dengan cermat, teliti dan fokus. Sedangkan hasil nilai atau score Tes TOEFL akan dikirim dalam bentuk e-certificate melalui email kepada para peserta. Usai mengikuti kegiatan ini, semua peserta Tes TOEFL difoto bersama dengan narasumber.

 Sumber: https://portal.sukabumikota.go.id/12396/ubsi-sukabumi-menggelar-workshop-and-english-training-section-for-toefl-test/

https://radarsukabumi.com/pendidikan/universitas-bina-sarana-informatika/tingkatkan-kemampuan-bahasa-inggris-ubsi-sukabumi-gelar-workshop-and-english-training/








Friday, 31 January 2020

Why We Shouldn't Dangle The Participle

I remembered when I studied about dangling. Some experts said we must avoid dangle participle. Why? It's simply because dangling participle is ruining you. According to Wikipedia (2015):  Dangling is ambiguous grammatical construct, whereby a grammatical modifier could be misinterpreted as being associated with a word other than the one intended or with no particular word at all. Then again, I recently found a joke regarding dangling participle on the internet. Here goes...

On his 69 birthday, a man was given a certificate from his wife. The certificate was for consultation with an Indian man living on a nearby reservation, and was rumored to have a simple medicine for erectile dysfunction.

The husband then went to the reservation and met that man. Couple hours of consultation, the old indian man gave him a potion and, with a grip on his shoulder, warned  “This is a powerful medicine. You take only a teaspoonful, and then say: ‘1…2…3.’ When you do, you will become more manly than you've ever been in your life, and you can perform for as long as you want.”

The man thanked the old Indian, and as he walked away, he turned and asked: “How do I stop the medicine from working?” “That’s easy. Ask your partner to say ‘1…2…3…4.’ He responded. “But when she does, the medicine will not work again until the next full moon.”

As his dream to be more manly like he used to be almost comes true, he went home quickly, showered, shaved, took a spoonful of the medicine, and then invited his wife to join him in the bedroom. He did some exercise while waiting his wife...



When she came in, he took off his clothes and said: “1…2…3!” Immediately, he was becoming the manliest man on earth. His wife was excited and began throwing off her clothes, and asked: “Honey, what was the 1…2…3... for?”

Voila!

And the old man be like...

And that, boys and girls, is why we should never end our sentences with a preposition, because we could end up with a dangling participle.

Wednesday, 22 May 2019

Indonesian Slang Language

Sadar atau tidak. Percaya atau tidak. Mau tidak mau. Bahasa inggris benar-benar sudah mengalir dalam nadi kita, nadi semua orang, terutama dalam mengucapkan sesuatu. Sehari-hari kita terpapar oleh berbagai macam kata-kata atau frasa-frasa dalam bahasa inggris, di Handphone, di TV, billboard iklan di jalan, saat mengoperasikan komputer atau laptop, membaca buku petunjuk suatu barang, membaca ingredients snack impor, dll. Di mana pun kita berada, pasti akan selalu ada Lexicon dalam bahasa inggris. Saya sendiri, merasa lebih nyaman ketika bahasa di handphone menggunakan bahasa inggris, ketika diganti ke bahasa indonesia malah terkadang suka kurang ngerti, apalagi kalau diganti ke bahasa Thailand. Duh... 

Dan pada artikel kali ini, saya akan membahas tentang beberapa bahasa slang bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa Inggris. Dan pasti sudah tidak asing lagi bahkan saya yakin pasti sudah sering digunakan sehari-hari.

Sunday, 15 October 2017

Lampung: Alam yang Tertata Rapi, Bahasa yang Ditinggal Pergi

April 2017, saya beserta 2 orang teman berangkat menuju ke Pelabuhan Merak dari Terminal Kampung Rambutan pada pukul 21:00 untuk menuju ke pelabuhan Bakauheni, Lampung. Iya, saya menuju ke Lampung untuk berlibur.


Topografi Lampung ini sungguh indah. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan lembah dan bukit berbatu. Bukit-bukit di sepanjang pantai Lampung bagian barat dan selatan tersebut merupakan sambungan dari jalur Bukit Barisan. Di tengah-tengah merupakan daratan rendah, sedangkan ke dekat pantai sebelah timur, di sepanjang tepi laut Jawa hingga ke utara merupakan daerah rawa-rawa perairan yang luas. Namun sayang sekali akses jalannya masih banyak yang berlubang dan tidak rata di sepanjang perjalanan saya di Lampung.

Setibanya di homestay sekitar pukul 5 sore. Saya lebih memilih untuk duduk-duduk di warung sembari berbincang dengan Pak Rusdi mengenai banyak hal, sekedar informasi saja, beliau merupakan pemilik homestay tempat kami menginap.

Semakin larut, saya semakin tertarik untuk berbincang mengenai banyak hal dengan Pak Rusdi --- terutama mengenai bahasa--- berhubung penulis merupakan pengajar bahasa di salah satu kampus di Jakarta.


Menurut Pak Rusdi, dan ini sangat penting sekali, di wilayah Lampung sana sangat sedikit warga asli Lampung, kebanyakan merupakan pendatang yang sudah transmigrasi sejak puluhan tahun silam. Makanya kami sedikit heran begitu memasuki wilayah pedesaan karena ada banyak anjing serta bangunan yang menyerupai Pura umat Hindu, di situ merupakan kampung Bali dan saat itu mereka baru saja merayakan hari raya nyepi. Terdapat juga kampung sunda, jawa, dll. Beliau sendiri adalah orang Palembang. Jangan heran pula kalau di sana kami jarang mendengar bahasa Lampung asli karena kebanyakan warganya menggunakan bahasa indonesia serta campuran antara bahasa sunda atau jawa. Ini yang menarik. Sedikit sekali penutur asli bahasa Lampung saat ini. Hal tersebut semakin membuat saya tergoda untuk melakukan sedikit riset kecil-kecilan mengenai bahasa Lampung.

Sampai saat ini, dalam percakapan sehari-hari sebenarnya bahasa Lampung masih digunakan dalam percakapan sehari-hari dalam keluarga. Walaupun sudah banyak pula keluarga yang tinggal di kota sudah tidak lagi menggunakan bahasa Lampung namun menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini sangat disayangkan karena bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa Ibu memiliki kekayaan kultural yang tak tergantikan dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Mengingat betapa pentingnya pelestarian bahasa ibu, maka UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day). Pelestarian bahasa Ibu (Language Maintenance) didefinisikan sebagai upaya yang disengaja, antara lain untuk: 1) mewujudkan diversitas kultural; 2) memelihara identitas etis; 3) memunginkan adaptabilitas sosial; secara psikologis menambah rasa aman bagi anak; dan 5) meningkatkan kepekaan linguistik (Alwasilah: 2006).

Bahasa Lampung adalah ibu dari bahasa melayu modern, termasuk bahasa Indonesia (Ming: 2008). Jumlah penduduk yang bersuku Lampung hanya sekira 20% dari total jumlah penduduk provinsi Lampung yang berjumlah sekitar 8 juta penduduk pada tahun 2016. Dengan demikian sangatlah wajar jika terjadi persaingan bahasa secara alamiah di mana para penduduk yang hidup di Lampung namun bersuku lain lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing daripada menggunakan bahasa Lampung. Serta kurangnya kebanggaan orang Lampung untuk menggunakan bahasa Lampung itu sendiri.

Orang-orang tua sesama suku Lampung mau menggunakan bahasa Lampung tapi anak-anak mudanya lebih menyukai untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat misalnya di wilayah tempat saya berkunjung, percakapan antara warga di sana sama sekali tidak menggunakan bahasa Lampung. Hal ini sangat berbeda dengan penggunaan bahasa jawa di daerah Jawa Tengah maupun Jawa Timur, misalnya. Masyarakat masih menggunakan bahasa jawa sebagai alat komunikasi dalam kesehariannya. Bahkan hampir setiap pendatang mengenal kosakata sederhana, seperti: suwun, nggih, mboten, monggo, dan lain-lain.

Sempat sekali saya mendengar percakapan seorang lelaki paruh baya dengan seseorang melalui telepon genggamnya berbicara dengan bahasa yang menurut saya agak asing di telinga.

“Nah, itu bahasa Lampung asli, Mas. Ngerti?” tanya Pak Rusdi kepada saya yang tentu saja saya jawab tidak mengerti sambil menggelengkan kepala.

“Dia sedang berbicara dengan anaknya di rumah, menanyakan apakah gas di rumah sudah habis atau belum,” Pak Rusdi lanjut menjelaskan maksud dari percakapan bapak tersebut. Meskipun bukan orang asli Lampung, pak Rusdi mengungkapkan bahwa ada sedikit kemiripan antara bahasa Lampung dengan bahasa Palembang sehingga sedikit banyak ia dapat memahami bahasa Lampung – selain tentunya telah lama tinggal di Lampung.

Iya. Bahasa Lampung memang digunakan dalam konteks yang terbatas, yaitu: di rumah, di desa yang ditinggali oleh suku Lampung, dan selama pertemuan tradisional di desa (Departemen Pendidikan dan kebudayaan, 1978 dalam Katubi 2007). Kebanyakan orang yang tinggal di kota besar sudah tak lagi menggunakan bahasa Lampung. Hal ini dapat dilihat di kota Bandar Lampung, misalnya, sangat jarang terdengar percakapan dalam bahasa Lampung. Kebanyakan mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.

Telah terjadi pergeseran dalam pilihan penggunaan bahasa Ibu dalam keluarga. Semula orang tua yang bersuku Lampung menggunakan bahasa Lampung sebagai bahasa ibu dalam keluarga, namun sekarang banyak orang tua yang memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu anak-anak mereka. Konsekuensinya, anak-anak tidak lagi bisa berbahasa Lampung, karena memang tidak diajari dan tidak lagi menemukan tempat di mana mereka bisa mendengar atau bahkan menggunakan Bahasa Lampung.

Pada tingkat pendidikan formal, pengajaran Bahasa Lampung terjebak pada pembelajaran aksara dan bukan komunikasi dalam Bahasa Lampung. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, misalnya faktor guru dan faktor materi ajar. Guru bahasa Lampung banyak yang tidak memiliki kualifikasi sebagai pengajar bahasa. Sebagian guru yang mengajar bahasa Lampung adalah penutur sejati bahasa Lampung yang ditunjuk untuk mengajar bahasa Lampung. Jadi, guru ditunjuk bukan karena keahliannya dalam mengajar bahasa. Maka sangatlah wajar jika metode yang digunakan tidak memadai dalam mengajarkan bahasa Lampung. Selain itu juga faktor materi ajar. Di sekolah diajarkan materi yang kosakatanya terlalu sulit dan tidak akrab dalam penggunaan sehari-hari. Maka hasilnya banyak anak-anak yang di rumah berkomunikasi dalam bahasa Lampung pun mengalami kesulitan ketika menerima materi pelajaran Bahasa Lampung yang disampaikan oleh guru di sekolah. Selain itu, bahan bacaan dalam bahasa Lampung pun masih sangat terbatas sehingga bagi siswa yang ingin memperdalam pengetahuan bahasa Lampung belum memiliki akses yang memadai (Inawati: 2015).

Sungguh sangat disayangkan. Padahal menurut Prof. Chaedar Alwasilah, guru besar UPI Bandung, pembiasaan penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari dan dalam pengajaran bahasa terhadap anak di Sekolah Dasar dan Menengah, sangatlah penting. Karena dalam bahasa tidak hanya terdapat aspek komunikasi saja, melainkan menyangkut juga aspek-aspek di dalam budaya daerah tersebut. seperti pandangan hidup, ilmu pengetahuan, seni sastra dan lain-lain. Dengan kata lain, jika sebuah bahasa telah kehilangan penggunanya, maka hilang pula kebudayaan pengguna bahasa tersebut.

Lalu... apa yang bisa kita lakukan sebagai generasi penerus bangsa? Penerus warisan leluhur, adat istiadat, bahasa, dan budaya? Ada banyak hal. Bisa dimulai dengan Festival Seni Budaya, Pertunjukan Drama, ataupun Sanggar Seni. Belajar dari Jawa Barat dengan Saung Angklung Udjo atau Yogyakarta dengan Rumah Tembi, alangkah baiknya jika Lampung juga memiliki sanggar budaya yang sedemikian rupa sehingga dapat diakses oleh masyarakat umum secara luas. Atau bisa juga dimulai dengan cara merubah pola pikir dari masyarakat itu sendiri, lakukan hal kecil yang saya pikir kita semua bisa melakukannya, yaitu berliterasi di dunia maya. Tulis segala sesuatu tentang Lampung, tentang bahasanya, tentang bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia, atau Lampung --- pada khususnya --- menjadi lebih aware terhadap kelangsungan bahasa mereka. Agar kelak, suatu saat tercipta rasa bangga untuk menggunakannya sehari-hari. Agar tidak menjadi sebuah Anomali; alam yang tertata rapi, bahasa yang ditinggal pergi.
Semoga.




Referensi:

Alwasilah, A.C. 2012. Pemertahanan Bahasa Ibu: Kasus Bahasa Sunda. Dalam Pokoknya Rekayasa Literasi. Bandung: Sekolah Pasca Sarjana UPI bekerjasama dengan Kiblat.

Arsandi, D. 2013. Menggalakkan Bahasa Lampung di Lingkungan Kampus. (www.academia.edu)

Katubi, O. 2007. Sikap Penutur Jati Bahasa Lampung. Pusat Penelitian dan Kebudayaan (PMB)-LIPI

Putra, K.A. 2013. Revitalisasi Bahasa Lampung. Lampung Post, 13 Februari 2013

Friday, 12 May 2017

Big Fish in a Small Pond Effect



Credit: google
Mana yang lebih baik: bekerja di perusahaan prestisius dan dikelilingi oleh orang-orang berbakat, atau di perusahaan yang lebih kecil, di mana kamu bisa menjadi pegawai terbaik di antara orang-orang yang biasa saja?
Sepak bola ternyata merupakan lingkungan yang ideal untuk menguji teori ini.
"Kami percaya bahwa sepak bola adalah laboratorium yang sempurna untuk menjawab banyak pertanyaan terkait karier karena kami dapat mengamati perjalanan karier setiap pemain, kata Jie Gong di Universitas Nasional Singapura, yang baru-baru ini melakukan studi tentang efek Ikan-Besar-di-Kolam-Kecil [Big-Fish-Small-Pond effect] di Liga Inggris.
#Efek peringkat
Efek Ikan-Besar-di-Kolam-Kecil lahir dari pengamatan terhadap ujian masuk sekolah, di mana anak-anak seringkali ditempatkan di sekolah atau tempat yang berbeda berdasarkan kemampuan mereka.

Friday, 10 February 2017

Indonesians’ Problems of Speaking English

As an international language, English is needed by people in every corner of the world for different reasons. However, not all nations speak this language that it comes as no surprise to learn that English simply becomes a foreign language in many countries like Indonesia. Therefore, if we want to be able to use English, we have to first study and master the four English language skills, namely speaking, listening, reading and writing. From those four competences, speaking is the ability often presenting people in Indonesia problems. Many Indonesians face some common problems in speaking English.


The first problem facing Indonesians is lack of confidence.  It remains difficult for them to bolster their confidence to communicate in this lingo even though they have learned English since their Primary school. Some of them understand English grammar very well and even score high marks in examinations, but their speaking skill is very poor. The main reasons behind this weakness are they are often too shy to strike up an English conversation and afraid that if they make a mistake, others will laugh at them, causing them to avoid speaking English in front of others.

Next, most Indonesians still do not have sufficient English vocabularies. It is as a result of their little enthusiasm of reading some English texts and opening their dictionary to find out some new vocabularies and idioms. These habits certainly make them often miss two or three important vocabularies  when trying to speak English, leading to their lack of ideas and difficulty to say what they are going to express. Another factor is this language is not our first language. So, naturally, the number of English words we have in our vocabulary is never enough.

Another problem Indonesians are struggling with when communicating in spoken English is their lack of practice. As they think that their confidence to speak English is low and their English vocabularies are insufficient, they will lose interest in practicing English. Then, it is worsened by difficulty people encounter in their environment when they try to speak this tongue. Their environment usually does not support them to frequently practice it. Other people may even think that those speaking English just want to show off. At last, since they do not want to be rejected by the other people around them, they use their native language in daily conversation.   

To sum up, i
t has been generally known that many people face some problems in speaking English as a foreign language in non-English speaking countries like Indonesia. Some of the problems in spoken English experienced by Indonesians are their lack of confidence to use English before others, their insufficient English vocabularies and lack of practice English.