Showing posts with label Artikel Populer. Show all posts
Showing posts with label Artikel Populer. Show all posts

Tuesday, 23 February 2021

Apa itu Filantropi?

 Filantropi berasal dari dua kata Yunani yaitu philos yang artinya cinta dan anthropos yang berarti manusia. Dengan begitu filantropi bermakna cinta pada sesama manusia dalam artian peduli pada kondisi manusia lainnya.


Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia menurut survei lembaga amal Charities Aid Foundation (CAF) dalam laporan World Giving Index 2018. Hal ini tidak lepas dari budaya gotong royong, solidaritas, dan tradisi jimpitan yang hampir ada di semua daerah di Indonesia. Diperkuat dengan nilai-nilai yang mengajarkan  pentingnya beramal dan berbagi kepada sesama aksi filantropi tumbuh subur di Indonesia. Filantropi berasal dari dua kata Yunani yaitu philos yang artinya cinta dan anthropos yang berarti manusia. Dengan begitu filantropi bermakna cinta pada sesama manusia dalam artian peduli pada kondisi manusia lainnya. Aksi filantropi ini kemudian diwujudkan dengan perilaku dermawan dan kecintaan pada sesama. Tradisi filantropi ini sebetulnya sudah ada sejak zaman Yunani dan Romawi Kuno ketika mereka menyumbangkan harta bendanya untuk perpustakaan dan pendidikan. Begitu pula di zaman Mesir Kuno yang mewakafkan tanahnya untuk dimanfaatkan para pemuka agama.

Filantropi Indonesia sendiri dibentuk untuk mendorong sejumlah lembaga filantropi di Indonesia meningkatkan kapasitas dan mendorong potensi filantropi yang diperkirakan mencapai Rp200 triliun. Hingga saat ini dana yang tergalang secara teroganisir masih minim.

Masih minimnya nilai kelolaan dana filantropi di Indonesia karena belum banyaknya dukungan dan kebijakan pemerintah untuk mendorong filantropi di Indonesia, termasuk insentif pajak yang dinilai masih kecil. Saat ini pemerintah masih menggunakan peraturan perundang-undangan yang sudah sangat lama yaitu UU Penggalangan Uang dan Barang No 9 tahun 1961 sehingga sudah tidak sesuai konteks dan sangat menghambat proses penggalangan dana. Salah satunya aturan fundraising yang harus diperbaharui setiap 3 bulan sekali sehingga sangat merepotkan. Kemudian, aturan mengenai kategorisasi filantropi atau fund raising lokal, regional, dan nasional yang justru sangat membatasi di era digital saat ini. Kedua, aturan mengenai insentif pajak.

Di beberapa negara lain filantropi sangat berkembang karena insentif pajak yang cukup menarik seperti tax exception yaitu pengecualian pajak terhadap sumbangan sebagai objek pajak. Kemdian tax deduction, sumbangan sebagai pengurang penghasilam kena pajak. Jadi sumbangan yang diberikan tersebut, bisa menjadi pengurang penghasilan kena pajak, di negara luar sudah lazim. Di Indonesia sudah ada, tetapi masih terbatas pada zakat, itu pun tidak signifikan hasilnya karena terbatas pada lima bidang saja.

Selain itu, insentif pajak yang diberikan masih kecil yaitu hanya 5 persen, tidak signifikan sehingga tidak banyak orang yang mengklaim. Padahal di negara lain sudah diberlakukan sampai super deduction yaitu pemberian insentif pajak dalam jumlah besar hingga 200 persen, diberikan pada bidang-bidang yang dianggap penting tetapi belum banyak disumbangkan.


Sumber : Filantropi Indonesia


Kebijakan-kebijakan yang belum banyak mendukung tersebut menjadi salah satu penyebab filantropi di Indonesia belum berkembang cukup signifikan. Padahal, dari sisi potensi sangat besar, ditambah dengan sifat masyarakat Indonesia yang dermawan dan senang berbagi. Apalagi saat ini lembaga filantropi di Indonesia sudah berkembang cukup pesat dan profesional. Ditambah dengan munculnya tren filantropi digital yang membuat masyarakat semakin mudah untuk berbagi dengan sistem yang lebih transparan.

"Jika kebijakan-kebijakan dari pemerintah bisa didorong, tentu dana filantropi yang terkumpul dan terorganisir akan semakin besar dan meluas, sehingga berdampak pada pertumbuhan perekonomian bangsa." (Hamid Abidin, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia dikutip dari Bisnis.com.)

Tuesday, 10 November 2020

Dunia Virtual

Situasi pandemi yang panjang dengan ketidakpastian yang tidak surut tingkatannya memang menguras energi yang melahkan raga, pikiran juga jiwa. 
Hal itu setidaknya terkonfirmasi dari orang-orang yang berinteraksi dengan saya. Tak hanya orang-orang terdekat seperti keluarga, tetapi juga mahasiswa-mahasiswa saya.

Setiap Senin, saya mengajar di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Fatmawati, Jakarta. Ketika ada kesempatan menyampaikan kondisi yang dirasakan saat kuliah virtual, yang nyaris sudah berlangsung satu tahun, konfirmasi itu saya dapatkan.

Sebagian besar mahasiswa kelelahan dan tentunya kewalahan. Bukan semata-mata karena materi kuliah dengan tugas-tugas yang tidak surut, tetapi juga karena situasi "terkurung" yang menyesakkan.

Dari sebagian besar yang kelelahan itu semua menyebut soal kesehatan mental sebagai hal yang mereka khawatirkan. 

Mendapati ini, saya menarik napas dalam-dalam dan berhenti sejenak mengajar. Saya beri ruang mahasiswa melepaskan semua beban dengan mengutarakan. Saya mendengarkan. 

Dengan mengutarakan, beban tidak langsung hilang. Namun, mendengarkan bisa menjadi awal baik untuk mendapatkan pengertian dan pemahaman. 

Saya diingatkan lagi niat awal saya mengajar. Selain berbagi pengetahuan dan pengalaman, mengajar jadi kesempatan saya untuk menyerap pengetahuan dan pengalaman mahasiswa yang berbeda generasi dengan saya.

Lewat ruang yang terbuka, saya mencoba mendengarkan. Sedikit banyak saya menjadi lebih paham apa mimpi, harapan dan kecemasan mahasiswa yang oleh sejarah diletakkan dalam situasi yang tidak mudah ini di usia yang masih muda.
Karena pemahaman ini, tuntutan perkuliahan tidak saya letakkan tanpa diskusi. Pijakan saya tunggal.

Jika mahasiswa gembira dan merasa senang saat mengikuti kuliah yang sulit sekalipun, maka pembelajaran layak dilanjutkan. Jika tidak, perkara perlu diselesaikan.

Untuk mendapati kepastian ini, di awal kuliah saya selalu bertanya kabar. Di tengah kuliah saya ulangi sambil bertanya soal materi. Begitu juga di akhir kuliah untuk keseluruhan materi.

Saya minta mahasiswa mengirim "reaction" sebagai sinyal untuk saya apakah mereka gembira atau sebaliknya.

Tidak adanya perjumpaan langsung, apalagi hanya terlihat baris nama di layar saat perkuliahan, sulit bagi saya untuk bisa menerka-nerka perasaan mahasiswa.

Sunday, 1 March 2020

Merdeka Finansial itu...

Siapa sih yang pernah menyangka kalau kamu bisa mapan meskipun gaji kamu 'hanya' 5 juta saja? Kebanyakan orang sudah berpikir pesimis mengingat untuk hidup di kota besar seperti di Jakarta angka segitu bisa dikatakan pas-pasan. Apalagi kalau sudah berkeluarga, punya anak 2, istri 1, kucing 5.
Source: google
Memang sih masih ada saja yang bisa bertahan hidup tapi biasanya pengorbanannya cukup besar. Nah, apalagi kalau kemudian berpikir untuk bisa mapan. Mungkin kata mapan hanya ada di mimpi saja.

Bulan Agustus kemarin banyak ditemui program-program yang berhubungan dengan kata 'merdeka'. Yha mumpung bulan kemerdekaan Indonesia. Mulai dari program televisi, program diskon belanja online seperti flash sale, atau di mall, kemudian muncul tagline merdeka finansial.

Memang seperti apa merdeka finansial itu?

Tuesday, 10 December 2019

Pelajaran Cinta Habibie dan Ainun

Berpulangnya BJ Habibie mengingatkan kita akan kisah cinta Habibie dan Ainun yang melegenda. Hingga kini perjalanan cinta sejati keduanya pun masih dikagumi dan menginspirasi para pasangan muda. Jika membaca buku atau paling tidak menonton film Habibie Ainun pasti sudah mengetahui bagaimana mantan Presiden Indonesia ketiga tersebut begitu mencintai istrinya. Berikut ini pelajaran cinta yang bisa dipetik dari kisah mereka:

1. Tidak Perlu Menemukan yang Sempurna

Banyak pesan cinta yang bisa dikenang dan dipelajari dari pasangan Habibie Ainun. Salah satunya mengenai kesempurnaan cinta. Agar cinta bisa sempurna, Habibie tidak mencari seseorang yang tanpa cela tapi yang membuat bahagia. "Tak perlu seseorang yang sempurna. Cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia. Dan membuatmu berarti lebih dari siapapun."

Wednesday, 22 May 2019

Indonesian Slang Language

Sadar atau tidak. Percaya atau tidak. Mau tidak mau. Bahasa inggris benar-benar sudah mengalir dalam nadi kita, nadi semua orang, terutama dalam mengucapkan sesuatu. Sehari-hari kita terpapar oleh berbagai macam kata-kata atau frasa-frasa dalam bahasa inggris, di Handphone, di TV, billboard iklan di jalan, saat mengoperasikan komputer atau laptop, membaca buku petunjuk suatu barang, membaca ingredients snack impor, dll. Di mana pun kita berada, pasti akan selalu ada Lexicon dalam bahasa inggris. Saya sendiri, merasa lebih nyaman ketika bahasa di handphone menggunakan bahasa inggris, ketika diganti ke bahasa indonesia malah terkadang suka kurang ngerti, apalagi kalau diganti ke bahasa Thailand. Duh... 

Dan pada artikel kali ini, saya akan membahas tentang beberapa bahasa slang bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa Inggris. Dan pasti sudah tidak asing lagi bahkan saya yakin pasti sudah sering digunakan sehari-hari.

Wednesday, 16 May 2018

Keadaan


Kebanyakan kisah cinta anak manusia diawali dengan sangat sederhana. Dari pertemuan yang konon katanya mengandung unsur ketidak sengajaan, dua manusia dapat saling sapa, saling tanya, lalu saling mencari satu sama lain. Benih asmara pun tumbuh, jika benih tersebut tumbuh di hati keduanya itu pertanda baik, namun jika hanya tumbuh di hati salah seorang saja ini yang akan menjadi masalah.

Ujung-ujungnya dapat kita prediksi, status galau bertebaran, seiring dengan kode keras yang muncul secara sporadis hanya agar dia mulai peka. Padahal mungkin saja dia peka, tapi tak mau berurusan lebih jauh denganmu.

Manusia adalah mahluk berpikir, itu yang membedakan kita dengan ciptaan-Nya yang lain, namun manusia pun mahluk yang mempunyai emosi.

Sayangnya, saat emosi sudah menghampiri, kita seringkali kehilangan daya untuk berpikir jernih. Kita lebih senang memberi kode, padahal dialog lebih memberikan titik terang.

Kita lebih senang menghilang, padahal pertemuan lebih memberikan gagasan. Kita lebih senang mendramatisir keadaan, padahal masalah seharusnya diselesaikan, bukan diperpanjang.

Lalu kau merasa dipermainkan? Katamu ia tak berhak membumbungmu tinggi hanya untuk menjatuhkanmu.

Berawal dari mencari, berujung dengan mencaci, perlukah?

Sadarkah dirimu bahwa cinta itu jorok? Muncul di mana saja, bahkan di tempat tak terduga. Cinta itu tak kenal etika, hilang tanpa permisi bahkan di waktu tak terduga.

Perasaan yang terbang tak selalu berujung mendarat dengan selamat. Cinta yang sembunyi-sembunyi tak selalu berujung ditemukan. Tangan yang saling menggenggam tak selalu berujung dipastikan.

Kadang, kita harus mengalah pada kenyataan bahwa apa yang kita berikan tak mesti sama dengan apa yang kita terima.

Jadi, jika memang harus kandas sebelum bersemi, ya sudah kenapa harus terlalu dipermasalahkan? Berkomitmen itu sama saja dengan bekerja sama, kalau dia merasa tak bisa bekerjasama denganmu setelah mengenalmu cukup dekat, apa harus dipaksa?


Hey, santai...


Tuhan sedang mempersiapkan kisah yang lebih baik untukmu.




- Buku Catatan Juang halaman 211-212 oleh Fiersa Besari -

Sunday, 15 October 2017

Lampung: Alam yang Tertata Rapi, Bahasa yang Ditinggal Pergi

April 2017, saya beserta 2 orang teman berangkat menuju ke Pelabuhan Merak dari Terminal Kampung Rambutan pada pukul 21:00 untuk menuju ke pelabuhan Bakauheni, Lampung. Iya, saya menuju ke Lampung untuk berlibur.


Topografi Lampung ini sungguh indah. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan lembah dan bukit berbatu. Bukit-bukit di sepanjang pantai Lampung bagian barat dan selatan tersebut merupakan sambungan dari jalur Bukit Barisan. Di tengah-tengah merupakan daratan rendah, sedangkan ke dekat pantai sebelah timur, di sepanjang tepi laut Jawa hingga ke utara merupakan daerah rawa-rawa perairan yang luas. Namun sayang sekali akses jalannya masih banyak yang berlubang dan tidak rata di sepanjang perjalanan saya di Lampung.

Setibanya di homestay sekitar pukul 5 sore. Saya lebih memilih untuk duduk-duduk di warung sembari berbincang dengan Pak Rusdi mengenai banyak hal, sekedar informasi saja, beliau merupakan pemilik homestay tempat kami menginap.

Semakin larut, saya semakin tertarik untuk berbincang mengenai banyak hal dengan Pak Rusdi --- terutama mengenai bahasa--- berhubung penulis merupakan pengajar bahasa di salah satu kampus di Jakarta.


Menurut Pak Rusdi, dan ini sangat penting sekali, di wilayah Lampung sana sangat sedikit warga asli Lampung, kebanyakan merupakan pendatang yang sudah transmigrasi sejak puluhan tahun silam. Makanya kami sedikit heran begitu memasuki wilayah pedesaan karena ada banyak anjing serta bangunan yang menyerupai Pura umat Hindu, di situ merupakan kampung Bali dan saat itu mereka baru saja merayakan hari raya nyepi. Terdapat juga kampung sunda, jawa, dll. Beliau sendiri adalah orang Palembang. Jangan heran pula kalau di sana kami jarang mendengar bahasa Lampung asli karena kebanyakan warganya menggunakan bahasa indonesia serta campuran antara bahasa sunda atau jawa. Ini yang menarik. Sedikit sekali penutur asli bahasa Lampung saat ini. Hal tersebut semakin membuat saya tergoda untuk melakukan sedikit riset kecil-kecilan mengenai bahasa Lampung.

Sampai saat ini, dalam percakapan sehari-hari sebenarnya bahasa Lampung masih digunakan dalam percakapan sehari-hari dalam keluarga. Walaupun sudah banyak pula keluarga yang tinggal di kota sudah tidak lagi menggunakan bahasa Lampung namun menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini sangat disayangkan karena bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa Ibu memiliki kekayaan kultural yang tak tergantikan dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Mengingat betapa pentingnya pelestarian bahasa ibu, maka UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day). Pelestarian bahasa Ibu (Language Maintenance) didefinisikan sebagai upaya yang disengaja, antara lain untuk: 1) mewujudkan diversitas kultural; 2) memelihara identitas etis; 3) memunginkan adaptabilitas sosial; secara psikologis menambah rasa aman bagi anak; dan 5) meningkatkan kepekaan linguistik (Alwasilah: 2006).

Bahasa Lampung adalah ibu dari bahasa melayu modern, termasuk bahasa Indonesia (Ming: 2008). Jumlah penduduk yang bersuku Lampung hanya sekira 20% dari total jumlah penduduk provinsi Lampung yang berjumlah sekitar 8 juta penduduk pada tahun 2016. Dengan demikian sangatlah wajar jika terjadi persaingan bahasa secara alamiah di mana para penduduk yang hidup di Lampung namun bersuku lain lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing daripada menggunakan bahasa Lampung. Serta kurangnya kebanggaan orang Lampung untuk menggunakan bahasa Lampung itu sendiri.

Orang-orang tua sesama suku Lampung mau menggunakan bahasa Lampung tapi anak-anak mudanya lebih menyukai untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat misalnya di wilayah tempat saya berkunjung, percakapan antara warga di sana sama sekali tidak menggunakan bahasa Lampung. Hal ini sangat berbeda dengan penggunaan bahasa jawa di daerah Jawa Tengah maupun Jawa Timur, misalnya. Masyarakat masih menggunakan bahasa jawa sebagai alat komunikasi dalam kesehariannya. Bahkan hampir setiap pendatang mengenal kosakata sederhana, seperti: suwun, nggih, mboten, monggo, dan lain-lain.

Sempat sekali saya mendengar percakapan seorang lelaki paruh baya dengan seseorang melalui telepon genggamnya berbicara dengan bahasa yang menurut saya agak asing di telinga.

“Nah, itu bahasa Lampung asli, Mas. Ngerti?” tanya Pak Rusdi kepada saya yang tentu saja saya jawab tidak mengerti sambil menggelengkan kepala.

“Dia sedang berbicara dengan anaknya di rumah, menanyakan apakah gas di rumah sudah habis atau belum,” Pak Rusdi lanjut menjelaskan maksud dari percakapan bapak tersebut. Meskipun bukan orang asli Lampung, pak Rusdi mengungkapkan bahwa ada sedikit kemiripan antara bahasa Lampung dengan bahasa Palembang sehingga sedikit banyak ia dapat memahami bahasa Lampung – selain tentunya telah lama tinggal di Lampung.

Iya. Bahasa Lampung memang digunakan dalam konteks yang terbatas, yaitu: di rumah, di desa yang ditinggali oleh suku Lampung, dan selama pertemuan tradisional di desa (Departemen Pendidikan dan kebudayaan, 1978 dalam Katubi 2007). Kebanyakan orang yang tinggal di kota besar sudah tak lagi menggunakan bahasa Lampung. Hal ini dapat dilihat di kota Bandar Lampung, misalnya, sangat jarang terdengar percakapan dalam bahasa Lampung. Kebanyakan mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.

Telah terjadi pergeseran dalam pilihan penggunaan bahasa Ibu dalam keluarga. Semula orang tua yang bersuku Lampung menggunakan bahasa Lampung sebagai bahasa ibu dalam keluarga, namun sekarang banyak orang tua yang memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu anak-anak mereka. Konsekuensinya, anak-anak tidak lagi bisa berbahasa Lampung, karena memang tidak diajari dan tidak lagi menemukan tempat di mana mereka bisa mendengar atau bahkan menggunakan Bahasa Lampung.

Pada tingkat pendidikan formal, pengajaran Bahasa Lampung terjebak pada pembelajaran aksara dan bukan komunikasi dalam Bahasa Lampung. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, misalnya faktor guru dan faktor materi ajar. Guru bahasa Lampung banyak yang tidak memiliki kualifikasi sebagai pengajar bahasa. Sebagian guru yang mengajar bahasa Lampung adalah penutur sejati bahasa Lampung yang ditunjuk untuk mengajar bahasa Lampung. Jadi, guru ditunjuk bukan karena keahliannya dalam mengajar bahasa. Maka sangatlah wajar jika metode yang digunakan tidak memadai dalam mengajarkan bahasa Lampung. Selain itu juga faktor materi ajar. Di sekolah diajarkan materi yang kosakatanya terlalu sulit dan tidak akrab dalam penggunaan sehari-hari. Maka hasilnya banyak anak-anak yang di rumah berkomunikasi dalam bahasa Lampung pun mengalami kesulitan ketika menerima materi pelajaran Bahasa Lampung yang disampaikan oleh guru di sekolah. Selain itu, bahan bacaan dalam bahasa Lampung pun masih sangat terbatas sehingga bagi siswa yang ingin memperdalam pengetahuan bahasa Lampung belum memiliki akses yang memadai (Inawati: 2015).

Sungguh sangat disayangkan. Padahal menurut Prof. Chaedar Alwasilah, guru besar UPI Bandung, pembiasaan penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari dan dalam pengajaran bahasa terhadap anak di Sekolah Dasar dan Menengah, sangatlah penting. Karena dalam bahasa tidak hanya terdapat aspek komunikasi saja, melainkan menyangkut juga aspek-aspek di dalam budaya daerah tersebut. seperti pandangan hidup, ilmu pengetahuan, seni sastra dan lain-lain. Dengan kata lain, jika sebuah bahasa telah kehilangan penggunanya, maka hilang pula kebudayaan pengguna bahasa tersebut.

Lalu... apa yang bisa kita lakukan sebagai generasi penerus bangsa? Penerus warisan leluhur, adat istiadat, bahasa, dan budaya? Ada banyak hal. Bisa dimulai dengan Festival Seni Budaya, Pertunjukan Drama, ataupun Sanggar Seni. Belajar dari Jawa Barat dengan Saung Angklung Udjo atau Yogyakarta dengan Rumah Tembi, alangkah baiknya jika Lampung juga memiliki sanggar budaya yang sedemikian rupa sehingga dapat diakses oleh masyarakat umum secara luas. Atau bisa juga dimulai dengan cara merubah pola pikir dari masyarakat itu sendiri, lakukan hal kecil yang saya pikir kita semua bisa melakukannya, yaitu berliterasi di dunia maya. Tulis segala sesuatu tentang Lampung, tentang bahasanya, tentang bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia, atau Lampung --- pada khususnya --- menjadi lebih aware terhadap kelangsungan bahasa mereka. Agar kelak, suatu saat tercipta rasa bangga untuk menggunakannya sehari-hari. Agar tidak menjadi sebuah Anomali; alam yang tertata rapi, bahasa yang ditinggal pergi.
Semoga.




Referensi:

Alwasilah, A.C. 2012. Pemertahanan Bahasa Ibu: Kasus Bahasa Sunda. Dalam Pokoknya Rekayasa Literasi. Bandung: Sekolah Pasca Sarjana UPI bekerjasama dengan Kiblat.

Arsandi, D. 2013. Menggalakkan Bahasa Lampung di Lingkungan Kampus. (www.academia.edu)

Katubi, O. 2007. Sikap Penutur Jati Bahasa Lampung. Pusat Penelitian dan Kebudayaan (PMB)-LIPI

Putra, K.A. 2013. Revitalisasi Bahasa Lampung. Lampung Post, 13 Februari 2013

Thursday, 17 August 2017

Perempuan


  1. Lelaki melakukan lebih banyak daripada apa yang dapat dilakukan perempuan, sedangkan perempuan melakukan apa yang lebih banyak daripada yang berani dilakukan lelaki.
  2. Lelaki dikenal dari apa yang tidak dia lakukan, dan perempuan dikenal dari apa yang dia lakukan.
  3. Dalam hubungan cinta, lelaki berbangga dengan kemenangannya meraih perempuan, sedangkan perempuan berhias dengan ketaklukkannya dihadapan lelaki. Lelaki berbangga dengan mengatakan: “Aku telah menaklukkan perempuan A, B, dan C”. Perempuan berbangga dengan mengatakan: “Aku telah menolak lelaki A, B, dan C.”
  4. Ketika seorang lelaki menangis dihadapan perempuan, sesungguhnya ia telah menyentuh keangkuhan perempuan itu, dan ketika perempuan menangis dihadapan lelaki, sesungguhnya ia telah menimbulkan rasa iba lelaki kepadanya.
  5. Kenikmatan perempuan diperoleh ketika berhasil menghancurkan hati lelaki, sedangkan      kenikmatan lelaki diperoleh ketika dia mampu memuaskan keangkuhan perempuan.
  6. Kebahagiaan di sisi lelaki adalah sukses dalam pekerjaan, sedangkan perempuan adalah sukses bersama lelaki.
  7. Dibalik setiap perempuan yang sukses, terdapat cinta yang gagal, dan di belakang setiap lelaki sukses, terdapat perempuan yang mencintai.
  8. Yang terakhir mati pada lelaki adalah hatinya, sedangkan pada perempuan adalah lidahnya.
  9. Perempuan menginginkan anak yang menyerupai kekasihnya, sedangkan lelaki menginginkan anak yang serupa dengannya, bukan yang serupa istrinya.
  10. Semua jenis pujian menggetarkan hati perempuan, namun tidak semua pujian menyentuh hati lelaki.
  11. Perempuan membinasakan akal lelaki, sedangkan lelaki meremukkan hati perempuan.
  12. Harapan lelaki menjadi keras bagaikan es, sedangkan harapan perempuan menjadi air lalu menguap seperti udara.
  13. Perempuan menganggap pernikahan sebagai stasiun terakhir dalam perjalanan hidupnya, sedangkan lelaki memandangnya sebagai salah satu stasiun, selanjutnya dia akan melanjutkan perjalanannya.
  14. Perempuan tidak akan melupakan ciuman pertama, sedangkan lelaki melupakan ciuman terakhirnya.
  15. Mudah bagi lelaki menutup matanya, tetapi mustahil bagi perempuan menutup telinganya.
  16. Tiga sifat lelaki yang terbaik namun itu terburuk bagi perempuan; berani, rendah hati dan tangan terbuka. Tiga sifat terbaik perempuan namun terburuk bagi lelaki; tinggi hati, sangat hati-hati, dan tangan tertutup.
  17. Lelaki adalah penderitaan cinta, sedangkan perempuan adalah cinta penderitaan.
  18. Lelaki memahami apa yang dia dengar, sedangkan perempuan mendengar apa yang dia tidak pahami.
  19. lelaki senang berpindah-pindah bagaikan wisatawan, sedangkan perempuan senang menetap bagaikan penduduk asli.
  20. Ketika lelaki merasa jemu ia membutuhkan seorang yang mendorongnya agar ia maju ke depan. Ketika perempuan merasa jemu, dia membutuhkan seseorang yang menopangnya dari belakang agar ia tidak terjatuh.
  21. Tuhan menciptakan lelaki dari tanah agar dia dapat menanam di bumi dan membangun di bumi rumah-rumah tempat tinggal. Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuk lelaki agar dia dapat mendorong lelaki dari bumi ini dan mengusirnya dari rumah yang dibangun lelaki itu.
  22. Lelaki sering tidak mengetahui kapan mengucapkan kata perpisahan bagi perempuan, sedangkan perempuan tidak mengetahui kapan dia harus berpisah.
  23. Ketika lelaki berbicara tentang kebebasan, yang dimaksud adalah kebebasan dari perempuan. Ketika perempuan berbicara keikhlasan, yang dimaksud adalah keikhlasan lelaki kepada mereka.
  24. Lelaki cepat jatuh cinta, sedangkan perempuan lebih cepat membenci.
  25. Lelaki yang tidak tampan dapat menemukan perempuan yang mencintainya, sedangkan      perempuan yang tidak cantik, sulit menemukan lelaki yang mencintainya.
  26. Perempuan lebih suka menikahi lelaki yang kaya walaupun banyak bicara, daripada pendiam namun miskin. Sedangkan lelaki  lebih senang menikah dengan perempuan yang pendiam walaupun miskin, daripada yang kaya namun banyak bicara.
  27. Ketika menjalin hubungan cinta, lelaki berusaha mengangkat perempuan ke peringkat lelaki, tetapi perempuan lebih senang turun ke tingkat lelaki yang disenanginya.
  28. Ketika dua orang lelaki bertengkar, sering kali penyebabnya adalah perempuan, sedangkan  perempuan bertengkar, biasanya penyebabnya juga perempuan.
  29. Lelaki menangis atas apa yang hilang darinya, sedangkan perempuan menangis atas apa yang tidak dia peroleh.
  30. Lelaki letih mencari ketenangan, sedangkan perempuan tidak tenang kecuali mencari keletihan.
  31. Ketika seorang perempuan menikah untuk kedua kalinya itu karena ia membenci suami pertamanya. Sedangkan ketika seorang lelaki menikah untuk kedua kalinya itu karena ia mencintai istri pertamanya. Karena itu perempuan mencoba nasib dan lelaki berspekulasi.
  32. Lelaki diciptakan dari tanah dan perempuan dari tulang. Karena itu, perempuan lebih kuat daripada lelaki dan kekuatannya terletak pada kelemahannya.
Referensi: Buku berjudul Perempuan oleh M. Quraish Shihab

Friday, 12 May 2017

Big Fish in a Small Pond Effect



Credit: google
Mana yang lebih baik: bekerja di perusahaan prestisius dan dikelilingi oleh orang-orang berbakat, atau di perusahaan yang lebih kecil, di mana kamu bisa menjadi pegawai terbaik di antara orang-orang yang biasa saja?
Sepak bola ternyata merupakan lingkungan yang ideal untuk menguji teori ini.
"Kami percaya bahwa sepak bola adalah laboratorium yang sempurna untuk menjawab banyak pertanyaan terkait karier karena kami dapat mengamati perjalanan karier setiap pemain, kata Jie Gong di Universitas Nasional Singapura, yang baru-baru ini melakukan studi tentang efek Ikan-Besar-di-Kolam-Kecil [Big-Fish-Small-Pond effect] di Liga Inggris.
#Efek peringkat
Efek Ikan-Besar-di-Kolam-Kecil lahir dari pengamatan terhadap ujian masuk sekolah, di mana anak-anak seringkali ditempatkan di sekolah atau tempat yang berbeda berdasarkan kemampuan mereka.

Thursday, 10 November 2016

Conversation of Love and Marriage



Once upon a time, a student asks a teacher, “Why often people marry a different person then they fell in love with?”

The teacher said, “In order to answer your question, go to the wheat field and choose the best wheat and come back. But the rule is that you can go through them only once and cannot turn back to pick.”

The sudent went to the field, went through the first row, he saw one big wheat which he instantly liked, but he wonders that maybe there is a bigger one further. Then he saw another bigger one, but again he thought that maybe there is an even bigger one waiting for him. Later, when he finished more than half of the wheat field, he started to realize that the wheat is not as big as the ones he let go off, he started to realize that he had missed the best one in the search of a bigger. So, he ended up going back to the teacher with an empty hand just because he just wasn’t able to forgive himself for letting go of the best wheat and described what happened.

The teacher told him, “You kept looking for a better one while letting go of the best one and later when you realize that you have missed that, you can’t go back. This is the mistake often made by people who fell in love and lost the best person they could have in their life.”

So, the student said, “Does that mean, one should never fall in love?”

The teacher replied, “No Dear, Anyone can fall in love if they find a suitable person. But, once you truly fall in love, you must never let go of that person due to your anger, ego or comparisons with others.”

“How do they end up marrying someone other than they loved?” the student asked curiously.

The teacher said, “In order to answer your question, now go to the corn field and choose the biggest corn and come back. But the rule is still the same as before, you can go through them only once and cannot turn back to pick.”

The student went to the corn field, this time he was careful to not to repeat the previous mistake. When he reached to the middle of the field, he picked one medium corn that he felt satisfied with and rushed back to the teacher. He described how he made a choice. The teacher told him, “Well, this time you didn’t come empty handed. You looked for one that is just nice, and  you had put your faith that this is the best one you can get. This is how one makes a choice for marriage.”

The student stood confusedly. The teacher asked, “What is bothering you now?”

The student then replied, “I’m wondering which would’ve been better, marrying the person you love or loving the person you marry.”

The teacher replied, “It’s very easy to answer that. Only if you are willing to admit it to yourself. Life is like a basket of fruits, Kid. Either you have to make a choice of eating the fruit you love or be content with something that is healthy! Choose wisely, else you may have to spend your life wondering…. What if.

As long as you stay true to yourself and honest, you can’t go wrong with any of these two choices.” the teacher closes the class.

Adapted from Reader's Digest

Sunday, 22 May 2016

Mengapa kebanyakan laki-laki sukses & kaya raya memiliki istri yang sederhana?


Seorang ahli keuangan menjawab pertanyaan dari wanita yang ingin menikah dengan tujuan uang.

Cerita ini di ambil dari Majalah Fortune,
Judulnya:

Young and pretty lady wishes to marry a rich guy.
------
Seorang wanita memposting sebuah pertanyaan melalui sebuah forum terkenal dengan bertanya:

"Apakah yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?"

Saya akan jujur dengan apa yang aku katakan. Usia saya 25 tahun. Saya sangat cantik, bergaya dan memiliki selera yang tinggi. Saya berharap menikah dengan pria kaya dengan penghasilan pertahun $500 ribu (+/-Rp.5,5M) atau lebih.

Anda mungkin akan berkata kalau saya termasuk perempuan materialistis, tapi kelompok penghasilan s.d $ 1 juta pun masih termasuk kelas menengah di New York.
Permintaan saya tidak setinggi itu.

Adakah pria di forum ini yang berpenghasilan $ 500 ribu per tahun? Apakah Anda semua telah menikah? Saya ingin bertanya apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan orang-orang seperti Anda?

Di antara pria yang telah berpacaran denganku, yang terkaya hanya berpenghasilan $ 250 ribu dan kelihatannya ini batas tertinggi yang pernah saya capai. Jika seseorang ingin pindah ke perumahan mewah di wilayah barat New York City Garden, penghasilan $250 ribu tentu tidak cukup.

Beberapa hal yang ingin saya tanyakan:

1. Dimanakah kebanyakan para pria kaya bertemu & berkumpul?
Mohon nama dan alamat bar, restauran dan gym yang sering
dikunjungi.
2. Rentang usia berapakah yang dapat memenuhi kriteria saya?
3. Kenapa wajah istri-istri orang kaya hanya terkesan biasa-biasa saja?
Saya telah bertemu dengan beberapa gadis yang tidak cantik dan
menarik, tapi mereka bisa menikah dengan pria kaya.
4. Apa pertimbangan Anda dalam menentukan istri dan siapakah
yang bisa menjadi pacar Anda?

Terus terang, tujuan saya sekarang adalah untuk menikah.

Terimakasih,
Gadis Jelita

Dan inilah jawaban dari seorang ahli keuangan dari Wall Street Financial

Dear Gadis Jelita,

Saya membaca email anda dengan sangat antusias. Saya yakin sebenarnya banyak gadis-gadis yang memiliki pertanyaan senada dengan Anda. Ijinkan saya untuk menganalisa situasi Anda dari sudut pandang investor profesional. Penghasilan tahunan saya lebih dari $ 500 ribu yang tentu memenuhi kriteria Anda. Jadi, saya harap setiap orang percaya bahwa jawaban saya cukup kredibel dan tidak membuang waktu.

Dari sudut pandang seorang pebisnis, menikah dengan Anda adalah keputusan yang buruk. Jawabannya sangat sederhana dan akan saya jelaskan.

Kesampingkan dulu detil-detil yang Anda tanyakan. Sebenarnya apa yang ingin Anda lakukan adalah pertukaran antara "kecantikan" dan "uang".

Si A akan menyediakan kecantikan dan si B akan membayar untuk itu. Kelihatannya adil dan cukup wajar. Tapi ada permasalahan fatal di sini. Kecantikan Anda akan sirna, tapi uang saya tidak akan hilang tanpa alasan yang jelas.

Faktanya adalah penghasilan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun. Tapi, Anda tidak akan bertambah cantik tiap tahunnya. Karena itu dari sudut pandang ekonomi: saya adalah aset yang ter-apresiasi sedangkan Anda adalah aset yang ter-depresiasi.

Depresiasi yang Anda alami bukan depresiasi normal, tapi depresiasi eksponensial. Jika hanya ini aset Anda, nilai Anda akan sangat mencemaskan 10 tahun kemudian. Dengan menggunakan istilah yang kami gunakan di Wall Street, setiap perdagangan memiliki sebuah posisi.

Berpacaran dengan Anda juga memiliki "posisi perdagangan".
Jika nilai aset yang didagangkan menurun, maka kami akan menjualnya.
Bukan ide yang baik untuk mempertahankannya. Begitu juga dengan pernikahan yang Anda inginkan. Saya sangat kejam untuk berkata seperti ini, tapi untuk membuat keputusan bijak, aset yang menurun nilainya akan dijual atau disewa. Pria dengan penghasilan $ 500 ribu tentu bukan orang bodoh. Kami akan berpacaran dengan Anda, tapi tidak akan menikahi Anda.

Saran saya lupakan mencari petunjuk bagaimana cara menikahi pria kaya. Usahakan agar Anda dapat membuat diri Anda kaya dengan berpenghasilan $ 500 ribu, lebih berpeluang ketimbang mencari pria kaya yang bodoh.

Semoga jawaban saya dapat membantu

Tertanda,
JP Morgan