Thursday, 17 August 2017

Perempuan


  1. Lelaki melakukan lebih banyak daripada apa yang dapat dilakukan perempuan, sedangkan perempuan melakukan apa yang lebih banyak daripada yang berani dilakukan lelaki.
  2. Lelaki dikenal dari apa yang tidak dia lakukan, dan perempuan dikenal dari apa yang dia lakukan.
  3. Dalam hubungan cinta, lelaki berbangga dengan kemenangannya meraih perempuan, sedangkan perempuan berhias dengan ketaklukkannya dihadapan lelaki. Lelaki berbangga dengan mengatakan: “Aku telah menaklukkan perempuan A, B, dan C”. Perempuan berbangga dengan mengatakan: “Aku telah menolak lelaki A, B, dan C.”
  4. Ketika seorang lelaki menangis dihadapan perempuan, sesungguhnya ia telah menyentuh keangkuhan perempuan itu, dan ketika perempuan menangis dihadapan lelaki, sesungguhnya ia telah menimbulkan rasa iba lelaki kepadanya.
  5. Kenikmatan perempuan diperoleh ketika berhasil menghancurkan hati lelaki, sedangkan      kenikmatan lelaki diperoleh ketika dia mampu memuaskan keangkuhan perempuan.
  6. Kebahagiaan di sisi lelaki adalah sukses dalam pekerjaan, sedangkan perempuan adalah sukses bersama lelaki.
  7. Dibalik setiap perempuan yang sukses, terdapat cinta yang gagal, dan di belakang setiap lelaki sukses, terdapat perempuan yang mencintai.
  8. Yang terakhir mati pada lelaki adalah hatinya, sedangkan pada perempuan adalah lidahnya.
  9. Perempuan menginginkan anak yang menyerupai kekasihnya, sedangkan lelaki menginginkan anak yang serupa dengannya, bukan yang serupa istrinya.
  10. Semua jenis pujian menggetarkan hati perempuan, namun tidak semua pujian menyentuh hati lelaki.
  11. Perempuan membinasakan akal lelaki, sedangkan lelaki meremukkan hati perempuan.
  12. Harapan lelaki menjadi keras bagaikan es, sedangkan harapan perempuan menjadi air lalu menguap seperti udara.
  13. Perempuan menganggap pernikahan sebagai stasiun terakhir dalam perjalanan hidupnya, sedangkan lelaki memandangnya sebagai salah satu stasiun, selanjutnya dia akan melanjutkan perjalanannya.
  14. Perempuan tidak akan melupakan ciuman pertama, sedangkan lelaki melupakan ciuman terakhirnya.
  15. Mudah bagi lelaki menutup matanya, tetapi mustahil bagi perempuan menutup telinganya.
  16. Tiga sifat lelaki yang terbaik namun itu terburuk bagi perempuan; berani, rendah hati dan tangan terbuka. Tiga sifat terbaik perempuan namun terburuk bagi lelaki; tinggi hati, sangat hati-hati, dan tangan tertutup.
  17. Lelaki adalah penderitaan cinta, sedangkan perempuan adalah cinta penderitaan.
  18. Lelaki memahami apa yang dia dengar, sedangkan perempuan mendengar apa yang dia tidak pahami.
  19. lelaki senang berpindah-pindah bagaikan wisatawan, sedangkan perempuan senang menetap bagaikan penduduk asli.
  20. Ketika lelaki merasa jemu ia membutuhkan seorang yang mendorongnya agar ia maju ke depan. Ketika perempuan merasa jemu, dia membutuhkan seseorang yang menopangnya dari belakang agar ia tidak terjatuh.
  21. Tuhan menciptakan lelaki dari tanah agar dia dapat menanam di bumi dan membangun di bumi rumah-rumah tempat tinggal. Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuk lelaki agar dia dapat mendorong lelaki dari bumi ini dan mengusirnya dari rumah yang dibangun lelaki itu.
  22. Lelaki sering tidak mengetahui kapan mengucapkan kata perpisahan bagi perempuan, sedangkan perempuan tidak mengetahui kapan dia harus berpisah.
  23. Ketika lelaki berbicara tentang kebebasan, yang dimaksud adalah kebebasan dari perempuan. Ketika perempuan berbicara keikhlasan, yang dimaksud adalah keikhlasan lelaki kepada mereka.
  24. Lelaki cepat jatuh cinta, sedangkan perempuan lebih cepat membenci.
  25. Lelaki yang tidak tampan dapat menemukan perempuan yang mencintainya, sedangkan      perempuan yang tidak cantik, sulit menemukan lelaki yang mencintainya.
  26. Perempuan lebih suka menikahi lelaki yang kaya walaupun banyak bicara, daripada pendiam namun miskin. Sedangkan lelaki  lebih senang menikah dengan perempuan yang pendiam walaupun miskin, daripada yang kaya namun banyak bicara.
  27. Ketika menjalin hubungan cinta, lelaki berusaha mengangkat perempuan ke peringkat lelaki, tetapi perempuan lebih senang turun ke tingkat lelaki yang disenanginya.
  28. Ketika dua orang lelaki bertengkar, sering kali penyebabnya adalah perempuan, sedangkan  perempuan bertengkar, biasanya penyebabnya juga perempuan.
  29. Lelaki menangis atas apa yang hilang darinya, sedangkan perempuan menangis atas apa yang tidak dia peroleh.
  30. Lelaki letih mencari ketenangan, sedangkan perempuan tidak tenang kecuali mencari keletihan.
  31. Ketika seorang perempuan menikah untuk kedua kalinya itu karena ia membenci suami pertamanya. Sedangkan ketika seorang lelaki menikah untuk kedua kalinya itu karena ia mencintai istri pertamanya. Karena itu perempuan mencoba nasib dan lelaki berspekulasi.
  32. Lelaki diciptakan dari tanah dan perempuan dari tulang. Karena itu, perempuan lebih kuat daripada lelaki dan kekuatannya terletak pada kelemahannya.
Referensi: Buku berjudul Perempuan oleh M. Quraish Shihab

Tuesday, 23 May 2017

Pengabdian Masyarakat: Apa itu AFTA? Bagaimana Mempersiapkannya?


Pengabdian Masyarakat adalah salah satu syarat dari Tridarma Perguruan Tinggi. STIBA Nusa Mandiri, bersama dengan PPPM-Nusa Mandiri mengadakan agenda rutin yang setiap semesternya menjadi agenda wajib bagi dosen-dosen di lingkungan Nusa Mandiri. Pengabdian masyarakat kali ini diadakan pada Tanggal 14 Mei  2017, bertempat di BSI Margonda Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Hujan deras yang mengguyur kota Depok sepanjang hari, tidak menyurutkan semangat panitia serta dosen-dosen pengajar yang akan memberikan materi mengenai Asean Free Trade Area (AFTA) atau lebih dikenal dengan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Sesuai agenda, rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat rencananya akan dimulai pada pukul 15:30 WIB selepas shalat Ashar berjamaah bersama para pengurus dan peserta panti asuhan.

Acara dipimpin oleh pembawa acara bapak Danang Dwi Harmoko dan dimulai dengan pembacaan doa terlebih dulu. Selanjutnya yaitu sambutan yang disampaikan oleh perwakilan STIBA Nusa Mandiri, Bapak Sayyid Khairunas. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan semoga apa yang diberikan oleh bapak-bapak dosen dari STIBA Nusa Mandiri bermanfaat bagi peserta, terakhir beliau juga berharap semoga ke depannya acara serupa dapat rutin digelar sehingga dapat saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Tiba saatnya bagi STIBA Nusa Mandiri melakukan penyampaian materi. Kali ini sebagai pemateri adalah Bapak Octa Pratama. Terlihat peserta menyimak dengan cukup antusias materi yang diberikan. Terdapat kurang lebih 30 anak yang terdiri dari tingkat SMA yang menjadi peserta pengabdian masyarakat kali ini. Pak Octa menyampaikan kalau Asean Free Trade Area, memberikan dampak fundamental terhadap ketersediaan lapangan kerja dan persaingan kualitas sumber daya manusia khususnya di wilayah Asia Tenggara. Oleh karena itu menyiapkan talenta-talenta muda yang mempunyai kualifikasi unggul sangat penting. Bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki sumber daya manusia Indonesia jika ingin bersaing dengan negara lain di ASEAN.

Pada dasarnya belajar bahasa apapun sama yaitu dimulai dari kebiasaan. Sedangkan kebiasaan tumbuh karena adanya kegemaran. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menumbuhkan kegemaran terhadap bahasa Inggris hingga akhirnya akan tercipta pembiasaan. Diakhiri dengan sesi berfoto bersama, maka berakhir lah rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat STIBA Nusa Mandiri kali ini. Semoga saling terjalin kekeluargaan antara STIBA Nusa Mandiri dengan Karang Taruna rangkapan jaya yang berkesinambungan ke depannya.



[Sayyid-STIBA]

Friday, 12 May 2017

Big Fish in a Small Pond Effect



Credit: google
Mana yang lebih baik: bekerja di perusahaan prestisius dan dikelilingi oleh orang-orang berbakat, atau di perusahaan yang lebih kecil, di mana kamu bisa menjadi pegawai terbaik di antara orang-orang yang biasa saja?
Sepak bola ternyata merupakan lingkungan yang ideal untuk menguji teori ini.
"Kami percaya bahwa sepak bola adalah laboratorium yang sempurna untuk menjawab banyak pertanyaan terkait karier karena kami dapat mengamati perjalanan karier setiap pemain, kata Jie Gong di Universitas Nasional Singapura, yang baru-baru ini melakukan studi tentang efek Ikan-Besar-di-Kolam-Kecil [Big-Fish-Small-Pond effect] di Liga Inggris.
#Efek peringkat
Efek Ikan-Besar-di-Kolam-Kecil lahir dari pengamatan terhadap ujian masuk sekolah, di mana anak-anak seringkali ditempatkan di sekolah atau tempat yang berbeda berdasarkan kemampuan mereka.

Friday, 10 February 2017

Indonesians’ Problems of Speaking English

As an international language, English is needed by people in every corner of the world for different reasons. However, not all nations speak this language that it comes as no surprise to learn that English simply becomes a foreign language in many countries like Indonesia. Therefore, if we want to be able to use English, we have to first study and master the four English language skills, namely speaking, listening, reading and writing. From those four competences, speaking is the ability often presenting people in Indonesia problems. Many Indonesians face some common problems in speaking English.


The first problem facing Indonesians is lack of confidence.  It remains difficult for them to bolster their confidence to communicate in this lingo even though they have learned English since their Primary school. Some of them understand English grammar very well and even score high marks in examinations, but their speaking skill is very poor. The main reasons behind this weakness are they are often too shy to strike up an English conversation and afraid that if they make a mistake, others will laugh at them, causing them to avoid speaking English in front of others.

Next, most Indonesians still do not have sufficient English vocabularies. It is as a result of their little enthusiasm of reading some English texts and opening their dictionary to find out some new vocabularies and idioms. These habits certainly make them often miss two or three important vocabularies  when trying to speak English, leading to their lack of ideas and difficulty to say what they are going to express. Another factor is this language is not our first language. So, naturally, the number of English words we have in our vocabulary is never enough.

Another problem Indonesians are struggling with when communicating in spoken English is their lack of practice. As they think that their confidence to speak English is low and their English vocabularies are insufficient, they will lose interest in practicing English. Then, it is worsened by difficulty people encounter in their environment when they try to speak this tongue. Their environment usually does not support them to frequently practice it. Other people may even think that those speaking English just want to show off. At last, since they do not want to be rejected by the other people around them, they use their native language in daily conversation.   

To sum up, i
t has been generally known that many people face some problems in speaking English as a foreign language in non-English speaking countries like Indonesia. Some of the problems in spoken English experienced by Indonesians are their lack of confidence to use English before others, their insufficient English vocabularies and lack of practice English.

Wednesday, 30 November 2016

Semantics and Pragmatics: How does everyone have different interpretation and perception?

Seminar kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh STIBA Nusa Mandiri Prodi Sastra Inggris kali ini [Selasa, 22 November 2016] bertempat di Aula kampus BSI salemba 22 dengan tema: “Semantics and Pragmatics: How does everyone have different interpretation and perception?”

Salah satu cabang dari ilmu linguistik yang mempelajari tentang makna adalah Semantics dan Pragmatics. Pada seminar kali ini, STIBA menghadirkan Ibu Yanti, Ph,D sebagai keynote speaker. Beliau yang mengenyam pendidikan doctoral di Dellaware University, Amerika Serikat, juga seorang dosen di Universitas Atmajaya, mengutarakan bahwa setiap orang bisa mempunyai persepsi serta interpretasi yang berbeda-beda mengenai suatu hal tergantung sampai sejauh mana kemampuan atau tingkat ilmu pengetahuan orang tersebut. Beliau memberikan contoh kasus yang baru-baru ini terjadi di  Jakarta ketika gubernur DKI, Basuki Tjahaya Purnama, melontarkan statement yang kontroversial. Menurut beliau, apa yang dikatakan oleh Ahok merupakan suatu hal yang menarik jika ditelisik menggunakan ilmu Semantics serta Pragmatics. Lebih lanjut lagi, beliau juga menyampaikan bahwa perbedaan kebudayaan juga menjadi salah satu faktor penentu seseorang memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Hal ini sekaligus membuktikan bagaimana pentingnya bagi seseorang untuk mempunyai pandangan serta pola pikir yang luas.

Meskipun tergolong sulit, namun ilmu linguistik bukan tidak mungkin untuk dikuasai. Menurut mahasiswa ketika ditanya oleh Ibu Yanti mengenai apa pendapatnya tentang linguistik. Hal yang perlu ditekankan adalah bagaimana kita mampu mempelajarinya dengan serius serta mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari karena kita hidup bersama dengan linguistik. Menurut beliau, hal tersebut mampu membuat ilmu linguistik lebih mudah untuk dipahami.






Seminar yang disampaikan dengan menggunakan Bahasa Inggris ini sangat membuat mahasiswa STIBA antusias. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme dan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta selama berlangsungnya acara. Jumlah mahasiswa yang mengikuti seminar linguistik ini mencapai 163 mahasiswa, menunjukan bahwa tema yang diusung termasuk menarik minat peserta. Selain temanya yang menarik, pembicara yang kompeten karena juga memberikan contoh-contoh yang ada dalam kehidupan sehari-hari, menjadi faktor pendukung suksesnya acara ini.

Peserta yang mengikuti workshop ini adalah mahasiswa sastra Inggris semester 3 yang juga mendapat mata kuliah Introduction to Linguistics, sehingga seminar ini diharapkan mampu menambah dimensi cakrawala pikiran mereka terhadap mata kuliah tersebut. 

[Sayyid-STIBA]


Thursday, 10 November 2016

Conversation of Love and Marriage



Once upon a time, a student asks a teacher, “Why often people marry a different person then they fell in love with?”

The teacher said, “In order to answer your question, go to the wheat field and choose the best wheat and come back. But the rule is that you can go through them only once and cannot turn back to pick.”

The sudent went to the field, went through the first row, he saw one big wheat which he instantly liked, but he wonders that maybe there is a bigger one further. Then he saw another bigger one, but again he thought that maybe there is an even bigger one waiting for him. Later, when he finished more than half of the wheat field, he started to realize that the wheat is not as big as the ones he let go off, he started to realize that he had missed the best one in the search of a bigger. So, he ended up going back to the teacher with an empty hand just because he just wasn’t able to forgive himself for letting go of the best wheat and described what happened.

The teacher told him, “You kept looking for a better one while letting go of the best one and later when you realize that you have missed that, you can’t go back. This is the mistake often made by people who fell in love and lost the best person they could have in their life.”

So, the student said, “Does that mean, one should never fall in love?”

The teacher replied, “No Dear, Anyone can fall in love if they find a suitable person. But, once you truly fall in love, you must never let go of that person due to your anger, ego or comparisons with others.”

“How do they end up marrying someone other than they loved?” the student asked curiously.

The teacher said, “In order to answer your question, now go to the corn field and choose the biggest corn and come back. But the rule is still the same as before, you can go through them only once and cannot turn back to pick.”

The student went to the corn field, this time he was careful to not to repeat the previous mistake. When he reached to the middle of the field, he picked one medium corn that he felt satisfied with and rushed back to the teacher. He described how he made a choice. The teacher told him, “Well, this time you didn’t come empty handed. You looked for one that is just nice, and  you had put your faith that this is the best one you can get. This is how one makes a choice for marriage.”

The student stood confusedly. The teacher asked, “What is bothering you now?”

The student then replied, “I’m wondering which would’ve been better, marrying the person you love or loving the person you marry.”

The teacher replied, “It’s very easy to answer that. Only if you are willing to admit it to yourself. Life is like a basket of fruits, Kid. Either you have to make a choice of eating the fruit you love or be content with something that is healthy! Choose wisely, else you may have to spend your life wondering…. What if.

As long as you stay true to yourself and honest, you can’t go wrong with any of these two choices.” the teacher closes the class.

Adapted from Reader's Digest