Monday, 16 January 2023

Dosen Sastra Inggris UBSI Beri Pelatihan Korespondensi Bahasa Inggris kepada Pelaku UMKM Kota Bogor

Dosen Sastra Inggris Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) beri pelatihan English Business Correspondence pada pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) kota Bogor. Dosen Program Studi Sastra Inggris Universitas BSI melakukan kegiatan Pengabdian Masyarakat dengan tema “Pelatihan English Business Correspondence kepada pelaku UMKM Kota Bogor”. Kegiatan ini berhasil terlaksana berkat kerjasama antara pihak Program Studi Sastra Inggris Universitas BSI dengan pihak Dinas KUKM Perdagangan dan Perindustrian (KUKMDAGIN) Kota Bogor yang mewadahi pelaku industri UMKM di wilayah Kota Bogor, pada Sabtu (19/11).

Acara dipimpin oleh pembawa acara Danang Dwi Harmoko dari pihak Universitas BSI dan dibantu oleh Octa Pratama Putra juga 2 orang mahasiswa sebagai panitia. Acara dimulai dengan pembacaan doa terlebih dahulu. Selanjutnya sambutan yang disampaikan oleh Sahdi selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinas KUKM Perdagangan dan Perindustrian (KUKMDAGIN) Kota Bogor. Dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Universitas BSI yang disampaikan oleh Sayyid Khairunas.

Sayyid Khairunas mengatakan keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan wajib dari 4 kemampuan dasar pembelajaran bahasa Inggris (listening, reading, speaking, writing).

“Keterampilan menulis wajib dikuasai oleh setiap individu yang sedang mempelajari bahasa Inggris ataupun profesi lain,” ujarnya dalam rilis yang diterima, Rabu (23/11).

Hal ini katanya, menulis merupakan indikator utama penguasaan sebuah bahasa. Jika seseorang mampu menulis dengan baik pada sebuah bahasa maka ia dapat dinyatakan menguasai bahasa tersebut.

“Dosen Sastra Inggris Universitas BSI Kampus Digital Kreatif memberikan materi mengenai English Business Correspondence atau berkorespondensi menggunakan Bahasa Inggris pada pelaku UMKM di wilayah Kota Bogor,” tegasnya.

Mengingat, terangnya kemampuan berkorespondensi bagi seorang pelaku usaha terutama Bahasa Inggris, cukuplah penting. Adanya pelatihan ini membuat peserta sangat antusias pada pelatihan kali ini.

“Peserta mengaku sangat senang dengan diadakannya acara pelatihan Bahasa Inggris karena mereka mampu melatih kemampuan Bahasa Inggris yang telah dipelajari di bangku sekolah maupun kuliah dulu,” katanya.

Sementara itu, Sahdi selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinas KUKM Perdagangan dan Perindustrian (KUKMDAGIN) kota Bogor menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya pada segenap keluarga besar Universitas BSI terlebih program studi Sastra Inggris yang telah hadir untuk bersilaturahmi sekaligus membagikan ilmu pada pelaku UMKM yang berada dibawah naungan KUKMDAGIN Kota Bogor.

“Semoga apa yang diberikan oleh dosen-dosen dari Universitas BSI bermanfaat bagi peserta pelatihan dan menambah kemampuan Bahasa Inggris yang dimiliki,” ungkapnya.

Ia pun berharap kedepannya kegiatan serupa dapat rutin digelar sehingga kedua belah pihak mampu mendapatkan benefit dari kegiatan yang diadakan.

“Kami sangat berterimakasih kepada dosen program Sastra Inggris Universitas BSI yang telah berkenan menyelenggarakan pelatihan Bahasa Inggris di kantor kami. Jujur kami merasa hal tersebut sangatlah penting di jaman sekarang ini,” tegas Sahdi.

Pada kesempatan ini, materi disampaikan oleh Dr Fitriyah, peserta menyimak dengan cukup antusias. Dalam surat menyurat atau berkorespondensi dengan bahasa inggris ada beberapa jenis surat yang harus diketahui seperti: Sales Letters, Order Letters, Complaint Letters, Adjusment Letters, dan Inquiry Letters.

Meski sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara surat bisnis berbahasa Inggris dengan yang menggunakan Bahasa Indonesia. Bagian-bagian surat tersebut tetap harus mengandung unsur-unsur pembuatan surat misalnya kop surat atau kepala surat jika memang surat tersebut bersifat formal. Tak lupa pula tanggal, serta alamat penerima surat yang jelas,” terangnya.

Ia juga secara langsung mempraktikan cara membuat surat dalam Bahasa Inggris yang kemudian diikuti oleh para peserta pelatihan dengan seksama. Ia pun berharap pelatihan ini bermanfaat bagi peserta.

“Semoga apa yang disampaikan bermanfaat dan dapat menjadi bekal berharga bagi para pelaku UMKM yang berada di bawah naungan KUKMDAGIN Kota Bogor,” tutupnya.






[Sayyid Khairunas-UBSI]

Thursday, 21 April 2022

Mengapa Banyak Orang Indonesia Masih Gagap Berbicara Bahasa Inggris?

Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang banyak dipakai oleh orang di dunia untuk alasan yang berbeda. Bahasa ini juga menjadi bahasa yang dipakai dalam sidang PBB atau pertemuan diplomat para tokoh pemerintah dunia. Meski tidak semua negara berbicara Bahasa inggris, tapi ada yang menjadikan bahasa ini sebagai bahasa resmi kedua mereka, seperti di Malaysia dan Singapura.

Di Indonesia, banyak orang yang fasih atau sekadar bisa bercakap menggunakan Bahasa Inggris. Jika ingin bisa menggunakan bahasa Inggris, terlebih dahulu kita harus mempelajari dan menguasai empat keterampilan berbahasa Inggris yaitu berbicara (speaking), mendengarkan (listening), membaca (reading), dan menulis (writing).

Dari keempat kompetensi tersebut, berbicara merupakan kemampuan yang sering menghadirkan permasalahan bagi masyarakat Indonesia. Banyak orang Indonesia menghadapi beberapa masalah umum dalam berbicara bahasa Inggris.

Masalah pertama yang dihadapi adalah kurangnya rasa percaya diri. Kepercayaan diri masih menjadi momok bagi para pembelajar bahasa Inggris, meskipun telah dipelajari sejak di tingkat sekolah dasar. Beberapa dari mereka mungkin memahami grammar bahasa Inggris dengan sangat baik dan bahkan mendapat nilai tinggi dalam ujian, tetapi keterampilan berbicara mereka sangat buruk.

Alasan utama di balik permasalahan ini adalah masyarakat Indonesia atau bahkan para pembelajar khususnya, masih sering terlalu malu untuk memulai percakapan dengan bahasa Inggris dan takut salah. Ada anggapan orang lain akan menertawakan mereka. Hal ini menyebabkan mereka menghindari berbicara bahasa Inggris di depan orang lain.

Selanjutnya, sebagian besar orang Indonesia masih belum memiliki kosakata bahasa Inggris yang memadai. Hal ini karena semangat membaca mereka yang kecil. Padahal, sangat penting bagi seorang pembelajar untuk membaca teks bahasa Inggris untuk memperdalam kosakata, frase, atau idiom baru.

Hal tersebut membuat mereka sulit untuk mengungkapkan sesuatu akibat perbendaharaan kosakata yang kurang memadai. Faktor lainnya adalah bahasa ini bukan bahasa pertama kita sebagai masyarakat Indonesia. Jadi, tentu saja, jumlah kata bahasa Inggris yang kita miliki dalam kosakata kita tidak pernah cukup jika ingin disamakan dengan penutur asli bahasa tersebut.

Masalah lain yang dihadapi orang Indonesia saat berkomunikasi dalam bahasa Inggris adalah kurangnya latihan. Mereka berpikir bahwa kepercayaan diri mereka untuk berbicara bahasa Inggris rendah dan kosakata bahasa Inggris mereka tidak mencukupi. Hal ini yang membuat mereka kehilangan minat untuk berlatih bahasa Inggris.

Kondisi diperparah dengan lingkungan atau circle mereka yang tidak mendukung. Lingkungan biasanya tidak mendukung mereka untuk sering mempraktikkan bahasa Inggris. Orang lain atau bahkan teman sendiri mungkin berpikir bahwa mereka yang berbicara bahasa Inggris hanya ingin pamer saja.

Akhirnya, karena tidak ingin dianggap si-paling-pinter oleh orang lain di sekitarnya, mereka kembali menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari. Secara umum, negara lain yang tidak menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua ataupun bahasa resmi di pemerintahan akan banyak menghadapi kendala yang kurang lebih sama seperti yang dialami oleh kebanyakkan masyarakat Indonesia.

Also Posted on: https://www.republika.co.id/berita/ramnzs459/mengapa-banyak-orang-indonesia-masih-gagap-berbicara-bahasa-inggris

 

Thursday, 24 March 2022

Karyawan Bappeda Bogor Asah Kemampuan Public Speaking bersama Dosen UBSI

Prodi sastra Inggris UBSI memberikan pelatihan bahasa Inggris kepada karyawan dan karyawati Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kabupaten Bogor.

Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama antara pihak Bappeda Kabupaten Bogor dengan Universitas Bina Sarana Informatika Program Studi Sastra Inggris. 

Inisiator dari pihak Bappeda, Ratu Desy mengungkapkan, bahwa pihaknya secara khusus meminta kepada para dosen di lingkungan Universitas Bina Sarana Informatika untuk memberikan pelatihan bahasa Inggris di area speaking atau conversation. 

"Hal ini dikarenakan akan kebutuhan bagi karyawan-karyawati Bappeda yang sering menggunakan bahasa Inggris ketika akan melakukan kunjungan kerja atau survei ke pihak asing," ujarnya, Senin (21/3/2022).

Octa Pratama Putra, S.S, M.Pd, selaku Ketua Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) mengatakan, pentingnya penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris untuk menunjang karir di masa depan. 

Ia juga menegaskan agar para karyawan-karyawati di Bappeda Kabupaten Bogor tersebut untuk mampu meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris agar berguna dalam pekerjaan mereka, misalnya melakukan negosiasi dengan pihak asing.

"Jika bapak-ibu menguasai bahasa asing, minimal bahasa Inggris, bapak-ibu dapat dengan baik berkomunikasi dengan pihak lain yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya," lanjutnya.

Meskipun acara pelatihan tersebut berlangsung selama 2 jam, namun peserta terlihat antusias dan bersemangat dalam mengikuti arahan tutor. 

Dr. Fitriyah S.S, M.Si, selaku tutor utama memberikan contoh fenomena sehari-hari dalam mengucapkan kata atau pun kalimat dalam bahasa Inggris yang masih sering salah, namun masih banyak yang tidak sadar. 

"Misalnya, dalam mengucapkan terima kasih yang tidak tepat. Masih banyak yang bilang thanks you, baik dalam ucapan secara langsung maupun status-status di media sosial saat ini. Frase yang benar adalah thank you, ya bapak-ibu, bukan thanks you, jika ingin mengucapkan terima kasih ke lawan bicara kita", ujarnya.

Para peserta pengabdian terlihat sangat antusias menyimak materi yang dipandu oleh tim tutor secara bergantian. Acara berlangsung dengan menarik di mana para peserta sangat aktif untuk bertanya dan berdialog dengan para dosen.


Kegiatan tersebut dilakukan melalui media Zoom, kegiatan ini berlangsung kondusif dan berjalan dengan lancar. Pada kegiatan tersebut juga dibantu oleh sejumlah tutor, di antaranya Sayyid Khairunas, S.S, M.Pd dan Danang Dwi Harmoko, S.S, M.Pd serta dua orang mahasiswi dari Prodi Sastra Inggris, yaitu Riris Nurhayati dan Devitasari Afreilia yang saat ini tengah menyusun tugas akhir.





Tuesday, 23 February 2021

Apa itu Filantropi?

 Filantropi berasal dari dua kata Yunani yaitu philos yang artinya cinta dan anthropos yang berarti manusia. Dengan begitu filantropi bermakna cinta pada sesama manusia dalam artian peduli pada kondisi manusia lainnya.


Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia menurut survei lembaga amal Charities Aid Foundation (CAF) dalam laporan World Giving Index 2018. Hal ini tidak lepas dari budaya gotong royong, solidaritas, dan tradisi jimpitan yang hampir ada di semua daerah di Indonesia. Diperkuat dengan nilai-nilai yang mengajarkan  pentingnya beramal dan berbagi kepada sesama aksi filantropi tumbuh subur di Indonesia. Filantropi berasal dari dua kata Yunani yaitu philos yang artinya cinta dan anthropos yang berarti manusia. Dengan begitu filantropi bermakna cinta pada sesama manusia dalam artian peduli pada kondisi manusia lainnya. Aksi filantropi ini kemudian diwujudkan dengan perilaku dermawan dan kecintaan pada sesama. Tradisi filantropi ini sebetulnya sudah ada sejak zaman Yunani dan Romawi Kuno ketika mereka menyumbangkan harta bendanya untuk perpustakaan dan pendidikan. Begitu pula di zaman Mesir Kuno yang mewakafkan tanahnya untuk dimanfaatkan para pemuka agama.

Filantropi Indonesia sendiri dibentuk untuk mendorong sejumlah lembaga filantropi di Indonesia meningkatkan kapasitas dan mendorong potensi filantropi yang diperkirakan mencapai Rp200 triliun. Hingga saat ini dana yang tergalang secara teroganisir masih minim.

Masih minimnya nilai kelolaan dana filantropi di Indonesia karena belum banyaknya dukungan dan kebijakan pemerintah untuk mendorong filantropi di Indonesia, termasuk insentif pajak yang dinilai masih kecil. Saat ini pemerintah masih menggunakan peraturan perundang-undangan yang sudah sangat lama yaitu UU Penggalangan Uang dan Barang No 9 tahun 1961 sehingga sudah tidak sesuai konteks dan sangat menghambat proses penggalangan dana. Salah satunya aturan fundraising yang harus diperbaharui setiap 3 bulan sekali sehingga sangat merepotkan. Kemudian, aturan mengenai kategorisasi filantropi atau fund raising lokal, regional, dan nasional yang justru sangat membatasi di era digital saat ini. Kedua, aturan mengenai insentif pajak.

Di beberapa negara lain filantropi sangat berkembang karena insentif pajak yang cukup menarik seperti tax exception yaitu pengecualian pajak terhadap sumbangan sebagai objek pajak. Kemdian tax deduction, sumbangan sebagai pengurang penghasilam kena pajak. Jadi sumbangan yang diberikan tersebut, bisa menjadi pengurang penghasilan kena pajak, di negara luar sudah lazim. Di Indonesia sudah ada, tetapi masih terbatas pada zakat, itu pun tidak signifikan hasilnya karena terbatas pada lima bidang saja.

Selain itu, insentif pajak yang diberikan masih kecil yaitu hanya 5 persen, tidak signifikan sehingga tidak banyak orang yang mengklaim. Padahal di negara lain sudah diberlakukan sampai super deduction yaitu pemberian insentif pajak dalam jumlah besar hingga 200 persen, diberikan pada bidang-bidang yang dianggap penting tetapi belum banyak disumbangkan.


Sumber : Filantropi Indonesia


Kebijakan-kebijakan yang belum banyak mendukung tersebut menjadi salah satu penyebab filantropi di Indonesia belum berkembang cukup signifikan. Padahal, dari sisi potensi sangat besar, ditambah dengan sifat masyarakat Indonesia yang dermawan dan senang berbagi. Apalagi saat ini lembaga filantropi di Indonesia sudah berkembang cukup pesat dan profesional. Ditambah dengan munculnya tren filantropi digital yang membuat masyarakat semakin mudah untuk berbagi dengan sistem yang lebih transparan.

"Jika kebijakan-kebijakan dari pemerintah bisa didorong, tentu dana filantropi yang terkumpul dan terorganisir akan semakin besar dan meluas, sehingga berdampak pada pertumbuhan perekonomian bangsa." (Hamid Abidin, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia dikutip dari Bisnis.com.)

Tuesday, 10 November 2020

Dunia Virtual

Situasi pandemi yang panjang dengan ketidakpastian yang tidak surut tingkatannya memang menguras energi yang melahkan raga, pikiran juga jiwa. 
Hal itu setidaknya terkonfirmasi dari orang-orang yang berinteraksi dengan saya. Tak hanya orang-orang terdekat seperti keluarga, tetapi juga mahasiswa-mahasiswa saya.

Setiap Senin, saya mengajar di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Fatmawati, Jakarta. Ketika ada kesempatan menyampaikan kondisi yang dirasakan saat kuliah virtual, yang nyaris sudah berlangsung satu tahun, konfirmasi itu saya dapatkan.

Sebagian besar mahasiswa kelelahan dan tentunya kewalahan. Bukan semata-mata karena materi kuliah dengan tugas-tugas yang tidak surut, tetapi juga karena situasi "terkurung" yang menyesakkan.

Dari sebagian besar yang kelelahan itu semua menyebut soal kesehatan mental sebagai hal yang mereka khawatirkan. 

Mendapati ini, saya menarik napas dalam-dalam dan berhenti sejenak mengajar. Saya beri ruang mahasiswa melepaskan semua beban dengan mengutarakan. Saya mendengarkan. 

Dengan mengutarakan, beban tidak langsung hilang. Namun, mendengarkan bisa menjadi awal baik untuk mendapatkan pengertian dan pemahaman. 

Saya diingatkan lagi niat awal saya mengajar. Selain berbagi pengetahuan dan pengalaman, mengajar jadi kesempatan saya untuk menyerap pengetahuan dan pengalaman mahasiswa yang berbeda generasi dengan saya.

Lewat ruang yang terbuka, saya mencoba mendengarkan. Sedikit banyak saya menjadi lebih paham apa mimpi, harapan dan kecemasan mahasiswa yang oleh sejarah diletakkan dalam situasi yang tidak mudah ini di usia yang masih muda.
Karena pemahaman ini, tuntutan perkuliahan tidak saya letakkan tanpa diskusi. Pijakan saya tunggal.

Jika mahasiswa gembira dan merasa senang saat mengikuti kuliah yang sulit sekalipun, maka pembelajaran layak dilanjutkan. Jika tidak, perkara perlu diselesaikan.

Untuk mendapati kepastian ini, di awal kuliah saya selalu bertanya kabar. Di tengah kuliah saya ulangi sambil bertanya soal materi. Begitu juga di akhir kuliah untuk keseluruhan materi.

Saya minta mahasiswa mengirim "reaction" sebagai sinyal untuk saya apakah mereka gembira atau sebaliknya.

Tidak adanya perjumpaan langsung, apalagi hanya terlihat baris nama di layar saat perkuliahan, sulit bagi saya untuk bisa menerka-nerka perasaan mahasiswa.

Monday, 14 September 2020

Fun Learning English: Belajar Bahasa Inggris Secara Menyenangkan Bersama Dosen Prodi Sastra Inggris UBSI

Jakarta, 14 September 2020 - Belajar bahasa inggris sudah seharusnya menyenangkan. Stigma yang selama ini ada mengenai belajar bahasa inggris yang katanya sulit, harus diubah. Menyadari akan hal itu, dosen program studi sastra inggris UBSI memiliki cara unik sekaligus menyenangkan dalam memberikan materi bahasa inggris. Meski dalam keadaan pandemi seperti saat ini, semangat untuk memberikan seribu kebaikan tidak boleh luntur. Oleh karenanya, dosen-dosen UBSI memutuskan untuk mengadakan pengabdian masyarakat secara daring.

Kegiatan Prodi Bahasa Inggris dan Sastra Inggris Fakultas Komunikasi dan Bahasa UBSI semester ganjil 2020-2021 ini dilakukan melalui aplikasi Zoom. Peserta kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah adik-adik dari Majelis Ta’lim Hidayatul Mubtadiin yang berlokasi di bilangan Ciledug. Beberapa panitia yang diutus langsung ke lokasi mitra tetap mengikuti protokol kesehatan yang ketat dan sesuai anjuran kesehatan. Seperti, memakai masker, jaga jarak aman minimal 1 meter, dan juga laptop yang memadai.

Acara dipimpin dan dibuka oleh Unpris Yastanti, M.Pd selaku Ketua panitia program pengabdian masyarakat. Selaku tutor yaitu Sayyid Khairunas, S.S., M.Pd, serta beberapa anggota panitia lain yang juga standby untuk memberikan materi yaitu Irwin Ananta Vidada, Sri Mulyati, Ary Iswanto Wibowo, dan Danang Dwi Harmoko. Kegiatan ini juga melibatkan seorang mahasiswi dari prodi sastra inggris yaitu Fefti Supriyatna yang saat ini sedang menyusun skripsi.

Mengusung tema tips and tricks dalam pembelajaran bahasa inggris agar lebih mudah dipahami, yang memang ditujukan agar peserta lebih enjoy dan tidak terlalu serius dalam proses pelaksanaan pengabdian kali ini. Dalam penyampaiannya, Sayyid memberikan contoh fenomena sehari-hari dalam mengucapkan kata ataupun kalimat dalam bahasa inggris yang masih sering salah – namun masih banyak yang tidak sadar. Beliau memberi contoh misalnya dalam mengucapkan terima kasih yang tidak tepat. Masih banyak yang bilang “thanks you” baik dalam ucapan secara langsung maupun status-status di media sosial saat ini. “Frase yang benar adalah ‘thank you’ ya teman-teman, bukan ‘thanks you’ jika ingin mengucapkan terima kasih ke lawan bicara kita”, ujarnya. Para peserta pengabdian terlihat sangat antusias menyimak materi yang dipandu oleh tim tutor. Acara berlangsung selama kurang lebih 2 jam.






Selesai sesi penyampaian materi sekaligus tanya jawab dengan peserta, para dosen dan panitia kemudian menutup sesi penyampaian materi. Acara pun diakhiri dengan sesi berfoto bersama antara pihak Universitas Bina Sarana Informatika dengan adik-adik dari Majelis Ta’lim Hidayatul Mubtadiin. Meskipun singkat, semoga apa yang disampaikan bermanfaat dan dapat menjadi bekal berharga bagi para peserta. [SKH]

Tuesday, 5 May 2020

Dosen Prodi Bahasa Inggris dan Sastra Inggris UBSI Beri Pelatihan Speaking Skill

Depok, - Bertepatan hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari Sabtu 2 Mei 2020, dosen UBSI dari prodi Bahasa Inggris dan Sastra Inggris mengadakan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Yayasan Panti Asuahan Anak ARRIDHO Depok, Jawa Barat. 
Kegiatan kepada Masyarakat ini merupakan agenda wajib untuk dosen yang terdapat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pengabdian kepada Masyarakat dimulai tepat pukul 09:00 – 11:00 Wib dan terbagi kedalam tiga tim. Masing-masing tim diberi kesempatan 20 menit untuk memberikan materi pelatihan PM sesuai dengan pilihan topik yang telah disiapkan. 

Tim pertama mengangkat judul yaitu Enhancing of Speaking Skills in the Midlle of Covid19. Dosen yang terlibat Jimmi, M.Pd, Aprillia, S.S., M.Pd, Nurmala Dewi, M.Pd, Dadan H., M.Pd, Chodidjah, M.Pd. Tim kedua mengangkat judul Improving English Skill through Daily Routine Conversation dan dosen yang terlibat Dr. Euis M., M.Pd, Herlin Widasiwi S., S.S., M.M., Prapti Wigati P. S.S., M.Hum, Lia N., S.S., M.Hum, Sufi Alawiyah, S.Kom, M.Pd. 


Tim Ketiga yaitu tim yang berasal dari prodi Sastra Inggris dengan judul Pengabdian Kepada Masyarakat yaitu Enhancing of Speaking Skills in the Midlle of Covid19 dan dosen yang terlibat yaitu , Danang Dwi, S.S., M.Pd, Sayyid Khairunas, S.S., M.Pd, Ary Iswanto, S.S., M.Pd, dan Fitriyah, S.S., M.Si, dan Okta Pramata Putra, S.S, M.Pd. Tidak hanya dosen saja dalam PM ini, ada 1 mahasiswa yang terlibat dalam PM edisi genap ini yaitu, Kristina Sidabalok mahasiswi Bahasa Inggris Semester 4.